Takbir Keliling dan Open House Dilarang, Salat Ied Diperbolehkan

by -
Takbir Keliling dan Open House Dilarang, Salat Ied Diperbolehkan
Ilustrasi Takbir Keliling

belitongekspres.co.id, PELAKSANAAN takbir keliling tahun ini dilarang. Larangan tersebut dimuat dalam Surat Edaran (SE) Menteri Agama Nomor 7 tahun 2021, tentang panduan penyelenggaraan Salat Idul Fitri saat pandemi Covid-19.

Berdasarkan SE tersebut, malam takbiran menyambut Idul Fitri 1442 Hijriah pada prinsipnya dapat dilaksanakan di semua masjid dan musala. Adapun ketentuannya, dilaksanakan secara terbatas, maksimal 10 persen dari kapasitas masjid dan musala.

“Kemudian juga pelaksanaannya dengan memperhatikan standar protokol kesehatan Covid-19 secara ketat. Sperti menggunakan masker, menjaga jarak dan menghindari kerumunan,” kata Kepala Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Kabupaten Belitung H Masdar Nawawi kepada Belitong Ekspres.

“Kegiatan takbir keliling ditiadakan untuk mengantisipasi keramaian. Ini juga sesuai dengan hasil rapat koordinasi dengan Pemkab Belitung beberapa waktu lalu. Takbiran ini juga dapat disiarkan secara virtual sesuai ketersediaan perangkat telekomunikasi di masjid dan musala,” imbuhnya.

Dijelaskannya, Salat Idul Fitri 1 Syawal 1442 Hijriah di daerah yang mengalami tingkat penyebaran Covid-19 tergolong tinggi (zona merah dan zona oranye) agar dilakukan di rumah masing-masing. Itu sejalan dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia dan ormas-ormas Islam lainnya.

Selain itu lanjut Masdar, pelaksanaan Salat Idul Fitri dapat diadakan di masjid dan lapangan hanya di daerah yang dinyatakan aman dari Covid-19. Yaitu zona hijau dan zona kuning berdasarkan penetapan pihak berwenang.

“Dalam hal Salat Ied dilaksanakan di masjid dan lapangan, wajib memperhatikan standar protokol kesehatan Covid-19 secara ketat. Dan untuk di Belitung hanya boleh di masjid dan tidak ada Salat Idul Fitri di lapangan berdasarkan hasil rapat. Seperti di halaman Pemda dan Gedung Nasional itu tidak ada dilaksanakan,” terang Masdar.

Dia menambahkan, untuk Jemaah salat Idul Fitri yang hadir tidak boleh melebihi 50 persen dari kapasitas tempat atau masjid, agar memungkinkan untuk menjaga jarak antarshaf dan antarjemaah. “Panitia Salat Idul Fitri dianjurkan menggunakan alat pengecek suhu dalam rangka memastikan kondisi sehat jemaah yang hadir,” sebutnya.

Masdar juga menyarankan bagi para lansia (lanjut usia) atau orang dalam kondisi kurang sehat, baru sembuh dari sakit atau dari perjalanan, disarankan tidak menghadiri Salat Idul Fitri di masjid.

“Seluruh jemaah kami minta agar tetap memakai masker dan khutbah Idul Fitri dilakukan secara singkat dengan tetap memenuhi rukun khutbah, paling lama 20 menit,” ujar Kepala Kantor Kemenag Belitung.

Tak hanya itu, panitia Salat Idul Fitri sebelum menggelar salat Idul Fitri di masjid atau lainnya wajib berkoordinasi dengan pemerintah daerah, Satgas Penanganan Covid-19 dan unsur keamanan setempat. Itu untuk mengetahui informasi status zonasi dan menyiapkan tenaga pengawas agar standar protokol kesehatan Covid-19 dijalankan dengan baik, aman dan terkendali.

“Kita melihat status Covid-19 di Belitung, kalau zona hijau kita boleh melaksanakan dan tetap dibatasi, untuk di masjid dan musola itu tidak ada masalah, kecuali ada ketentuan baru dari Pemda,” tukas Masdar.

Selanjutnya, untuk silaturahmi dalam rangka Idul Fitri agar hanya dilakukan bersama keluarga terdekat dan tidak menggelar kegiatan Open House atau Halal Bihalal di lingkungan kantor atau komunitas.

Himbauan itu mengingat terjadi perkembangan ekstrem Covid-19, seperti terdapat peningkatan yang signifikan angka pasien positif, adanya mutasi varian baru virus corona di suatu daerah.

“Oleh karena itu pelaksanaan surat edaran ini disesuaikan dengan kondisi setempat. Kita berharap masyarakat bisa mematuhi panduan edaran ini dan kita sudah sampaikan kepada masjid dan musala,” tandas Masdar.

Sementara itu, Kapolres AKBP Ari Mujiyono memastikan tidak ada malam perayaan takbir keliling. Hal itu dilakukan untuk mencegah terjadinya kerumunan massa menjelang Idul Fitri 1442 Hijiriah.

“Kami tidak memberikan izin keramaian untuk menggelar acara yang mendatangkan massa. Termasuk takbir keliling dan acara musik. Saat ini kita fokus pengamanan pencegahan penularan Covid-19 di Kabupaten Belitung,” kata AKBP Ari kepada Belitong Ekspres.

Dia menjelaskan, mengenai acara takbiran pihak kepolisian hanya memberikan izin untuk dilakukan di Masjid atau Musala (Surau). Namun untuk waktunya ditentukan. “Kalau takbiran di Masjid atau Surau silahkan. Kita memberikan izin dengan batas waktu yang sudah ditentukan,” katanya.

Bahkan pihak kepolisian juga tidak melarang untuk melaksanakan Salat Idul Fitri. Namun harus tetap menerapkan protokol kesehatan. Seperti memakai masker. “Untuk Salat Idul Fitri diperbolehkan,” pungkasnya.

Bupati Beltim Juga Terbitkan SE

Bupati Belitung Timur (Beltim) Burhanudin juga menerbitkan surat edaran nomor 400/023/11/2021, tanggal 6 Mei 2021, tentang menyambut Hari Raya Idul Fitri 1442 H di masa Pandemi Covid-19.

Edaran itu dibuat dalam rangka pelaksanaan Peraturan Bupati Beltim Nomor 44 Tahun 2020, Tentang Penerapan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan Sebagai Upaya Pencegahan Dan Pengendalian Virus Corona.

“Dan ini sebagai tindaklanjut hasil Rapat Koordinasi Kepala Daerah bersama Kementerian Dalam Negeri pada Hari Senin Tanggal 3 Mei 2021, dalam rangka penegakan Protokel Kesehatan Dan Penanganan Covid-19 di Daerah,” sebut Bupati Beltim.

Dalam surat tersebut ditegaskan untuk pelaksanaan menyambut Idul Fitri 1442 Hijriah, agar memperhatikan berbagai hal. Pertama, takbir kellling dengan menggunakan konvoi kendaraan roda 2, roda 2 dan 4 atau lebih ditiadakan. Takbiran cukup dilakukan di masjid/surau/mushala dengan menggunakan pengeras suara.

Kedua, untuk Sholat Idul Fitri dianjurkan untuk dilaksanakan diapangan terbuka dan tetap menerapkan protokol kesehatan Covid-19. Yaitu, dengan memakai masker selama ibadah, menyediakan alat cuci tangan/handsanitizer, mengatur jarak minimal 1 meter, serta menunjuk petugas pengontrol pelaksanaan protokol kesehatan Covid-19.

Ketiga, mengingatkan para panitia pengumpul Zakat Fitrah dan/ atau ZIS, untuk meminimalkan kontak fisik langsung, seperti berjabat tangan ketika melakukan penyerahan zakat tersebut.

Keempat, untuk kegiatan pertunjukan hiburan dengan menggunakan musik hidup pada tempat-tempat wisata, karaoke, cafe yang mengundang kerumunan massa ditiadakan. Kelima, waktu pelaksanaan kegiatan sehingga tidak terlalu lama berkumpul dalam suatu tempat/atau ruangan. (dod/kin/dny)