Tambang di Air Durin Toboali Beroperasi di Malam Hari

by -

*Saut, Penertiban Secara Persuasif dan Bertahap.

foto-A-Penertiban-tambang-yang-dilakukan-petugas-Satpol-PP-Basel
Penertiban (TI) Apung dan Rajuk yang dilakukan petugas Satpol PP Basel.

TOBOALI-Penertiban terhadap aktivitas penambangan timah ilegal jenis tambang inkonvensional (TI) apung dan rajuk yang beroperasi diperairan laut Kubu, Bantel dan hutan lindung (HL) pesisir laut dusun Parit II desa Kepoh, kecamatan Toboali Kabupaten Bangka Selatan (Basel) dilakukan secara persuasif dan bertahap. Hal ini disampaikan Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Basel, Letkol Saut Ritonga.

Menurut Letkol Saut, permasalahan tambang dan kehutanan kewenangan sepenuhnya terkait hal itu ada di Provinsi bukan di Kabupaten. Karena itu, sehingga untuk melakukan penertiban pun harus berkoordinasi dengan Provinsi.

“Kita sifatnya di Kabupaten bergerak secara terkoordinasi dengan Provinsi, karena terkait masalah tambang ini kewenangannya itu ada di Provinsi bukan di Kabupaten, termasuk juga masalah kehutanan. Tapi kita secara bertahap dan persuasif tetap melakukan penertiban terhadap seluruh aktivitas penambangan ilegal yang beroperasi diperairan laut Kubu, laut Bantel dan hutan lindung desa Kepoh,” ujar Saut, Rabu (7/6/2017).

Ia menjelaskan, seluruh anggotanya difokuskan untuk melakukan penertiban terhadap aktivitas tambang ilegal yang mengganggu ketertiban umum dan meresahkan masyarakat. Misalnya beroperasi dilingkungan pemukiman penduduk seperti yang pernah ditertibkan di Air Durin kelurahan Toboali Kota.

“Aktivitas tambang disana (Air Durin_red) sudah kita tertibkan dengan menyita 2 unit mesin peralatan tambang, karena sudah beberapa kali kita berikan peringatan dan surat teguran. Tapi masih saja tetap beroperasi dengan alasan mau cari uang untuk lebaran yang sebelumnya juga kita maklumi, toleransi karena alasan mereka mau sedekah ruahan dan butuh biaya untuk anak masuk sekolah dan lain-lainnya,” kata Saut.

Aktivitas penambangan timah ilegal yang beroperasi diwilayah pemukiman penduduk Air Durin itu, lanjut Saut, dampaknya sangat berbahaya sekali bagi lingkungan setempat. Karena menurut pengamatannya itu pemilik tambang maupun pekerja tambang bukan lagi mau mencari makan. Tapi sudah mencari kekayaan dengan cara bekerja yang tidak tahu aturan lagi.

“Lihat saja bekas tambang itu lobangnya semakin besar dan menjadi kolong. Itu sangat berbahaya bagi lingkungan, anak-anak bisa jadi korban apabila main di sekitar kolong bekas tambang tersebut,” jelasnya menambahkan dua unit peralatan mesin tambang yang disita anggotanya dan dibawa ke kantor Satpol PP, rencananya akan dimusnahkan dengan cara dibakar.

“Sebenarnya ada 4 unit tambang yang beroperasi disana. Tapi anggota kita kesulitan saat mengangkut 2 unit alat mesin tambang itu ke atas, karena harus menggunakan mobil derek sehingga cuma 2 unit yang dibawa ke kantor sebagai barang bukti penertiban tambang ilegal yang beroperasi di pemukiman penduduk Air Durin Toboali,” ujarnya.

Informasinya, kata Saut, pasca dari penertiban Sabtu (3/6) lalu aktivitas tambang ilegal di Air Durin kembali beroperasi. Bahkan, aktivitas tersebut beroperasi hingga malam hari. “Informasinya ada 2 unit yang kembali beroperasi di malam hari, nanti kita akan cek kelokasi untuk memastikan itu,” tegas Saut mengimbau agar para penambang sadar bahwa apa yang dikerjakan itu adalah salah.

“Berhentilah merusak lingkungan. Itu pemukiman penduduk, mari kita saling mengingatkan untuk menjaga lingkungan, pemukiman penduduk serta daerah aliran sungai, karena untuk menjaga itu adalah tanggungjawab kita bersama,” tuturnya.(tom)