Tambang Rakyat Legal

by -

Kerusakan Lingkungan Makin Parah

PANGKALPINANG – Niat pemerintah untuk melegalkan pertambangan rakyat menurut Ketua Umum Gerakan Masyarakat Peduli Lingkungan (Gempa), Aditia Pratama, ST malah akan memperparah kerusakan lingkungan di Bangka Belitung (Babel). Pasalnya rata-rata masyarakat belum dibekali pengetahuan tentang tata cara penambangan yang sesuai dengan kaedah-kaedah penambangan.
“Masyarakat kita kebanyakan hanya memikirkan hasil, mereka tidak menghiraukan kerusakan yang ditimbulkan. Makanya upaya melegalkan tambang rakyat ini malah akan menjadi blunder otomatis memperparah kerusakan lingkungan di Babel,” kata Adit, kemarin (11/11). Menurut Adit jangankan pertambangan yang dilakukan oleh rakyat, pertambangan yang dilakukan sekelas perusahaan besar seperti PT Timah dan perusahaan-perusahan swasta lainnyapun belum tentu melakukan kaedah-kaedah pertambangan yang baik dan benar.
“Kami sangat mengapresiasi apa yang diupayakan pemerintah guna membantu perekonomian rakyat khususnya rakyat Babel, tapi apalah artinya bila harus mengorbankan lingkungan yang mana kita sadari sudah memasuki kondisi krisis,” tukas Adit. Adit meminta sebelum upaya itu dilakukan alangkah baiknya pemerintah memikirkan kembali niat tersebut, terlebih masyarakat masih awam terkait penambangan yang sesuai dengan perundang-undangan.
“Kurang lebih 16 tahun rakyat menambang, alhasil kondisi lingkungan Babel luluh lanta, ditambah lagi dengan upaya pelegalan ini. Maka kami memprediksi 10 tahun kedepan negeri ini akan menjadi negeri yang sangat gersang, dan bencana akan menghantui masyarakat Babel,” ungkanya. Terlebih penambangan yang dilakukan di Laut, yang mana hingga saat ini belum diketahui tingkat keparahan kontaminasi limbah tailing pertambangan terhadap lingkungan laut juga menjadi momok menakutkan bagi lingkungan.
“Kita selalu dininabobokkan dengan hal yang sesaat, bila timah habis mau bekerja sebagai apa rakyat Babel, berkebun. Tanah sudah rusak, menjadi nelayan, laut rusak,” sebutnya. Adit meminta kepada seluruh masyarakat Babel untuk memikirkan kembali niat tersebut, sebab timah ini merupakan hasil alam yang tidak dapat diperbaharui sehingga suatu saat pasti akan habis. “Banyak potensi lain yang harus dikembangkan, peningkatan perekonomian masyarakat bukan hanya bisa didapatkan dari pertambangan semata tetapi perkebunan, peternakan, dan kelautan juga sangat menjanjikan,” jelas Adit.
Oleh sebab itu pihaknya menolak keras apa yang diupayakan pemerintah terkait upaya pelegalan tersebut, sebab terindikasi hanya merupakan kepentingan para pengusaha yang tidak bertanggungjawab. “Bila pemerintah tidak memberikan pemahaman serta sosialisasi terkait kaedah-kaedah penambangan yang baik itu seperti apa maka kami secara tegas menolak upaya tersebut,”pungkas alumnus Teknik Lingkungan ini.(tya)