Tanah Kuburan Kuno di Air Ranggong Dijadikan Kavling?

by -
Tanah Kuburan Kuno di Air Ranggong Dijadikan Kavling?
Bupati Belitung H. Sahani Salah saat meninjau tanah kuburan kuno di daerah Air Ranggong yang sudah diperjualbelikan dan dijadikan tanah kavling, Selasa (22/9) kemarin.

Makam Kuno Dirusak Alat Berat
Sanem Meradang, Turun Tangan

belitongekspres.co.id, TANJUNGPANDAN – Polemik penjualan lahan milik Pemerintah Desa (Pemdes) Aik Saga menjadi perhatian serius Bupati Belitung H. Sahani Saleh (Sanem). Pada Selasa (22/9) kemarin, Bupati Belitung beserta rombongan turun langsung ke lapangan untuk melihat permasalahan tersebut.

Pantauan Belitong Ekspres, tak tanggung-tanggung lahan seluas 10,5 hektar yang diperjualbelikan itu berada di dalam kawasan Hutan produksi (HP), dan terdapat situs sejarah berupa makam kuno peninggalan dari kerajaan zaman dahulu.

Ironisnya lagi, lahan dan pemakaman atau kuburan kuno yang berada di Jalan Air Ranggong RT 27 RW 12 Dusun Air Serkuk itu, kini sudah rusak akibat di-Land Clearing menggunakan alat berat.

Bupati Belitung mengatakan, sangat menyayangkan lahan pekuburan yang merupakan situs sejarah peninggalan dari kerajaan zaman dahulu itu, sudah digarap untuk dijadikan lahan kavling dan diperjualbelikan.

“Ngeri uh tanah kuboran ajak disikat, ape agik nok lain. Liat jak inilah diberik patok sajak,” katanya kepada Belitong Ekspres di lokasi.

Pria yang karib disapa Sanem menegaskan, pemerintah daerah akan menjaga dan merevitalisasi kawasan tersebut. Pasalnya, makam tersebut merupakan peninggalan sejarah yang harus dijaga.

“Jadi ini nak dikemasek duluk, baru kini dibuatkan pagar biar urang dak gik sembarang karena ini kan banyak sejarah nenek moyang urang Belitong duluk,” tegasnya.

Setelah mendengarkan penjelasan dari Pj. Kepala Desa Air Saga, Sanem mengatakan pemakaman itu adalah kuburan dari keturunan Raja Badau. Yaitu, keturunan Tuk Lanun dan Keturunan Kerajaan Samudra Pasai yang sudah ada dejak tahun 1678 – 1748. “Kuboran ini banyak nilai sejarahnya, jadi akan dikategorikan sebagai salah satu situs sejarah daerah,” pungkasnya.

Pj Kepala Desa (Kades) Aik Saga, Kecamatan Tanjungpandan, Saman juga merasa miris bahkan geleng-geleng kepala. Sebab, lahan atau aset desa yang berbeda di jalan Aik Ranggong sudah diperjualbelikan untuk dijadikan kavling perumahan.

“Kami Pemerintah Desa, merasa tidak pernah mengesahkan surat menyurat penjualan lahan itu. Kita anggap itu urusan mereka (penjual dan pembeli,red). Kami di desa tahunya itu tetap aset milik desa,” tegas Saman kepada Belitong Ekspres Selasa.

Sementara itu Ketua RT 27 Lisnawati yang sudah 14 tahun tinggal di Desa Air Saga, Dusun Aik Ranggong mengatakan, penggarapan lahan tempat pemakaman tersebut sudah berjalan sejak 2 bulan terakhir.

Dikatakannya, dirinya tidak pernah bertemu dengan orang yang memiliki atau membeli kawasan tersebut, karena tidak pernah meminta izin kepadanya selaku pemilik wilayah (RT) setempat. “Orang yang punya lahan dan menggarap lahan itu tidak pernah melapor. Pas saya tahu lahan itu sudah dipatok (kavling),” sebutnya.

Sepanjang pengetahuannya, lahan tersebut tidak mempunyai surat sama sekali, karena memang tidak bisa dan tidak dapat dibuatkan surat, karena masih dalam kawasan Hutan Produksi (HP).

“Kalau cuma dasarnya tanah ini turun temurun dari kakek nenek moyangnya, itu mungkin cuma asal cerite saja. Tapi kalau dilihat dari sisi lain kita juga tahu istilah asal muasal tanah ini karena saya sudah diam di Air Ranggong ini sudah 15 tahun tinggal di sini,” pungkasnya. (dod/rez)