Tare Minta Hentikan Kapal Apung di Perairan Tanjung Kelayang

by -
Rumah makan terampung di perairan Pulau Lengkuas.

Bisa Merusak Terumbu Karang
Limbahnya akan Cemari Pantai

belitongekspres.co.id, SIJUK – Tokoh masyarakat Belitung H Muchtar Mutong meminta pemerintah maupun instansi terkait menghentikan aktivitas rumah makan terapung di perairan Pantai Tanjung Kelayang. Sebab, itu akan merusak terumbu karang dan juga ekosistem laut.

Belum lagi, akibat limbah yang ditimbulkan kata dia juga bakal mencemari pantai. Apalagi lokasi itu merupakan kawasan objek wisata primadona di Negeri Laskar Pelangi.

Oleh karena itu, H Tare sapaan akrabnya berharap pemerintah melalui instansi terkait segera mengambil langkah untuk menyetop aktivitas rumah makan di kapal terapung tersebut. Karena, kalau dibiarkan maka akan bermunculan kapal-kapal apung yang baru.

“Jika itu terjadi maka berapa limbah yang dihasilkan dari kapal itu. Kemudian berapa terumbu karang dan ekosistem laut yang akan rusak, akibat jangkar yang ditancapkan kapal ini,” kata H Tare kepada Belitong Ekspres, Kamis (1/8) kemarin.

Tidak hanya sampai di situ saja. Adanya kapal apung juga bakal menimbulkan gejolak sosial di masyarakat. Bagaimana tidak, ketika orang luar boleh membuat usaha dan beroperasi, sedangkan warga lokal tidak boleh.

“Contohnya sudah ada. Kita lihat reklamasi di kawasan Pattimura, satu melakukan reklamasi, maka yang lainnya juga ikut mereklamasi. Akhirnya sekarang diproses oleh negara,” ungkap pria yang dikenal dengan idealisme ini.

Mengenai adanya kapal apung ini, pemerintah maupun aparat keamanan harus bertindak cepat. Bila perlu saran H Tare pemerintah segera membuat regulasi-regulasi, khususnya tentang investasi di Negeri Laskar Pelangi.

“Kita tidak mematikan atau melemahkan inovasi kreatif. Namun harus diperhatikan dampak terhadap lingkungannya. Sehingga investor tidak membabi buta dan meraba-raba saat berinvestasi,” tegasnya.

“Jika kondisi seperti ini terus dibiarkan, maka para investor akan memilih membuat kapal dari kayu lalu dibuat semacam kafe. Dibandingkan membeli tanah lalu membuat rumah makan maupun resto,” sambungnya.

Sementara itu, MA warga Tanjungpandan mengatakan, dirinya pernah sekali datang ke tempat kapal apung itu. Namun, dia belum melihat adanya limbah. Tetapi, untuk memarkirkan kapal apung ini, diduga menggunakan jangkar ataupun mengikat ke terumbu karang.

“Saya waktu itu membawa tamu. Lalu melihat adanya kapal apung di tengah laut. Setelah itu kita berhenti. Memang tempatnya bagus. Jika merusak kami tidak mendukung adanya kapal apung ini,” ungkap pria yang berprofesi sebagai guide ini.

Menanggapi hal itu, Kasatpolair Polres Belitung AKP Syarifuddin Ginting masih enggan berkomentar. Sebab, dalam waktu dekat dia beserta jajarannya akan mendatangi kapal apung tersebut. Setelah itu baru melakukan pemeriksaan.

“Sejauh ini belum ada izin ke Satpolair Belitung. Tapi tidak tahu kalau ada izin dari intansi-instansi terkait,” ujar Kasatpolair Polres Belitung ini. (kin)