Temukan Apel Terindikasi Bakteri

OYO 399 Kelayang Beach Hotel

*Dalam Sidak BPOM Babel Buah Apel Impor

PANGKALPINANG – Inspeksi Mendadak (Sidak) Badan Ketahanan Pangan (BKP) Provinsi Bangka Belitung bersama Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Babel, terkait buah apel impor merek Gala, Granny Smith dan Bidart Rost, kemarin (28/1) membuahkan hasil. Tim menemukan buah apel yang terindikasi mengandung bakteri. Hal ini ditemukan petugas saat melakukan sidak ke gudang buah milik Melly di Jl. Bahagia Pasar Pembangunan.
“Kita akan return produk ini dan akan kita stop pemasarannya. Kita juga akan beritahu ke pedagang, supplier kita untuk jangan dulu menjual apel ini,” ungkap pengelola gudang, Melly.
Sementara, Kepala Badan Ketahanan Pangan, Rofiko menegaskan, sidak dilakukan di beberapa pasar yang ada di Pangkalpinang guna meninjau adanya bakteri listeria monocytogenes pada apel import asa Amerika Serikat. “Kita harus menangani serius masalah bakteri ini karena 92% holtikultura kita jenis kedele, apel dan lain-lain banyak kita import dari luar, sisanya baru produk lokal seperti gandum dan beras yang baru 20%,” ungkapnya. Melalui sidak ini Rofiko meyakinkan, pihaknya khawatir virus ini melekat, namun tidak bisa terdeteksi, dan obatnya sendiri belum ada untuk menahan patologi itu. “Kita minta masyarakat berhati-hati untuk mewaspasi produk import, termasuk jeruk. Bongkar muat dari bandara dan pelabuhan juga harus diawasi bea cukai dan gudang penyimpanan juga harus kita awasi,” tandasnya.
Armaini, Penyidik Pegawai Negeri Sipil Badan Ketahanan Pangan Babel menambahkan, BKP Babel turun ke lapangan untuk mengecek kebenarannya dengan mengambil sample dari buah-buahan tersebut. “Kami hanya mengecek kebenaran itu, kami ambil sample dan akan kami kirimkan ke Kementrian Perdagangan dan Perindustrian bahwa di wilayah kita ditemukan berdasarkan hasil lab. Mudah-mudahan ini sebagai acuan untuk Pemda agar dapat mengambil sikap,” ujarnya.
Menurut dia, untuk di Babel, sesuai kebijakan yang pertama pihaknya mengingatkan kepada pelaku usaha agar tidak menjual apel dari tiga merk tersebut. “Apabila nanti mereka masih melakukan penjualan, baru kami akan mengambil tindakan,” jelasnya.
Dikatakannya, saat ini pihaknya masih sebatas melakukan pengawasan dan pembinaan. Selain mengambil sampel, pihaknya juga mengambil dokumen dari mana asal buah apel itu. “Jika ke depan masih ada laporan masyarakat mengenai pedagang yang menjual apel tersebut selama tahap pengawasan, maka pihaknya akan menyita habis buah itu,” katanya. Ia menyebutkan, jika para pedagang masih tetap nekat menyembunyikan dan tetap menjual buah apel yang bisa membahayakan kesehatan masyarakat, maka para pedagang itu bisa dikenakan pasal UU No 18 tahun 2012 tentang pangan, ancaman hukuman lima sampai 10 tahun dengan denda lima sampai 10 miliar rupiah.
“Kami bisa mengambil tindakan tegas dengan menuntut secara hukum jika para pedagang masih bandel dan tetap nekat menjual apel berbahaya itu selama pengawasan dan hasil uji sampel belum keluar. Terlebih apel yang mereka jual bisa membahayakan kesehatan masyarakat,” katanya.
Ia mengatakan, bakteri yang sudah mencemari apel tersebut adalah bakteri yang memakan tanaman mati, sehingga kalau apel dikonsumsi dan masuk ke perut, bakterinya akan hidup dan menembus dinding otot pencernaan. “Jika masyarakat mengonsumsi apel itu dan bakterinya masuk ke perut, maka bakterinya akan hidup dan menembus dinding otot pencernaan. Jika tidak ditangani dengan baik, maka akan mengakibatkan kematian dan saat ini sudah tujuh orang yg meninggal,” katanya.
Dikatakannya pula, apel merek apel Gala dan Granny Smith, di Malaysia sudah ditarik dari pasaran untuk menghindarkan warganya terserang wabah bakteri berbahaya tersebut. “Saat ini di AS dan Kanada sedang ada wabah bakteri listeria yang juga menyebar lewat buah apel. Untuk itu setiap buah merek Gala dan Granny Smith, kami imbau jangan dibeli ataupun dikonsumsi,” ujarnya. Ia mengatakan, imbauan agar masyarajkat tidak membeli apel tersebut sesuai informasi dari Kementerian Perdagangan bahwa banyak produk-produk apel dari AS yang sudah banyak menyebar di Indonesia. “Hari ini kami juga telah mengambil sampel untuk mengetahui sudah sejauh mana buah itu terinsfeksi bakteri, walaupun kita sudah mengetahuinya dari informasi Kementerian Perdagangan,” katanya.

Baca Juga:  Jaga Wilayah Potensi Ikan Babel

Sidak juga dilakukan ke hypermart BTC. Namun, tidak ditemukan apel dari Amerika. “Sejak dua hari kemarin kita tidak jual apel dari amerika, karena kit sudah diinformasikan dari pusat,” ungkap Rizky, Department manager projuice Hypermart BTC Pangkalpinang.
Disisi lain, Kementerian Perdagangan meminta masyarakat tidak panik dengan adanya larangan mengonsumsi apel asal Amerika Serikat. Sebab, larangan itu hanya berlaku untuk apel yang diimpor dari California. Sementara itu, Indonesia selama ini hanya mengimpor apel dari Washington. ”Apel yang dilarang itu hanya yang dari California, di luar itu masih boleh. Impor apel Amerika itu selama ini 99 persen dari Washington, bukan California. Kalaupun ada apel jenis granny smith dan gala yang masuk, itu bukan dari Amerika Serikat, tapi mungkin dari negara lain,” ujar Dirjen Standardisasi dan Perlindungan Konsumen Kementerian Perdagangan Widodo Selasa (27/1).
Dia menyatakan sudah mengecek data importasi apel dari Amerika Serikat dan tidak menemukan impor apel jenis granny smith dan gala dari California. Tim dari Kementerian Perdagangan juga telah menyisir sejumlah pusat perbelanjaan dan toko ritel, namun tidak menemukan apel mematikan itu. ”Yang dilarang itu merek Granny’s Best dan Big B,” kata Widodo. Saat ini, lanjut dia, Kementerian Perdagangan telah mengirimkan surat kepada dinas perdagangan di daerah dan Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia untuk mengantisipasi beredarnya dua jenis apel California itu. ”Kami juga telah ambil sampel semua jenis apel yang diimpor dari Amerika untuk diperiksa di laboratorium. Hasilnya mungkin keluar akhir bulan,” jelasnya.
Sebagai antisipasi, dia meminta masyarakat waspada dalam membeli apel. Setidaknya harus dilihat merek dan asal apel tersebut. Langkah selanjutnya mengupas kulit apel sebelum dimakan untuk mencegah adanya pestisida yang masih tertinggal. ”Hingga sekarang belum ditemukan apel berbakteri di Indonesia. Tapi, kita akan terus pantau. Khawatir ada yang masuk secara ilegal,” lanjutnya.
Sementara itu, Menteri Perdagangan Rachmat Gobel meminta importerproduk apeldari Amerika Serikat bertanggung jawab jika ada konsumen yang terganggu kesehatannya akibat mengonsumsi buah tersebut. Seandainya ada laporan dari masyarakat, pihaknya akan menelusuri tempat penjualan dan importernya. ”Jangan mau untung saja. Harus siap tanggung jawab,” tegasnya.
Menurut Rachmat, pemerintah tidak mungkin mengawasi setiap sudut Indonesia. Oleh sebab itu, dia meminta importer yang merasa pernah mendatangkan apel granny smith dan gala asal California harus menarik buah tersebut dari pasaran. Sementara itu, pedagang yang merasa memiliki wajib membuangnya. ”Penjualan harus distop. Kalau tidak, akan membuat masalah baru,” jelasnya.
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kemenkes Prof dr Tjandra Yoga Aditama memastikan bahwa hingga saat ini belum ada laporan kejadian luar biasa (KLB) terkait dengan keracunan pangan akibat konsumsi apel impor tersebut. ”Sampai sekarang tidak ada laporan dari daerah. Baru terjadi di Amerika dan Kanada,” katanya. Meski begitu, Kemenkes segera melakukan segala upaya preventif. Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes dr HM. Subuh MPPM menyatakan telah membuat surat edaran kepada kepala dinas kesehatan provinsi dan unit pelaksana teknis (UPT) Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen PP dan PL). Surat edaran tersebut berisi instruksi untuk melakukan langkah pencegahan dan kewaspadaan dini. ”Mereka juga diminta melapor secepatnya dalam waktu 1 x 24 jam jika menemukan kasus listeriosis sesuai wilayah kerja masing-masing untuk segera ditindaklanjuti,” urai Subuh.
Di lain pihak, Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM ) Roy Sparringa menyatakan bahwa dua produk apel yang ditengarai mengandung bakteri penyebab penyakit listeriosis tidak beredar di Indonesia. Hal tersebut berdasar surat yang disampaikan Kementan kepada instansinya. ”Kami mendapatkan surat dari Kementan, tepatnya dari Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (PPHP) Kementan. Yang bersangkutan menyampaikan bahwa produk apel yang sedang dibicarakan tidak masuk ke Indonesia,” paparnya. Kementan, lanjut Roy, juga telah melakukan uji sampel di beberapa ritel di berbagai daerah untuk memastikan ada tidaknya apel yang terindikasi mengandung bakteri berbahaya tersebut.
Namun, pihaknya tetap menginstruksi seluruh Balai Besar POM di 32 provinsi untuk mengawal pengawasan di daerah melalui jaringan pengawasan pangan daerah. ”Selain itu, badan POM melakukan penapisan melalui mekanisme surat keterangan impor (SKI) untuk menangkal atau mencegah kemungkinan masuknya produk olahan caramel apples yang terkontaminasi. Jika ada informasi lebih lanjut terhadap kasus ini, segera diumumkan kepada masyarakat,” ujarnya. Sementara itu, Kementerian Perdagangan telah melarang peredaran apel jenis granny smith dan gala asal Amerika di dalam negeri. Namun, larangan tersebut sepertinya belum efektif di lapangan. Dua apel yang dilarang masih beredar di sejumlah pusat perbelanjaan.
Berdasar pantauan, sedikitnya ada dua pusat perbelanjaan di Jakarta yang masih menjual bebas apel yang diduga mengandung bakteri Listeria monocytogenes tersebut. Misalnya, yang terlihat di Rumah Buah, Jalan S. Parman, Jakarta Barat, dan Carrefour Cikini, Jakarta Pusat. Supervisor Rumah Buah Rumah Muhammad Jaozi, 28, mengatakan, isu larangan memperjualbelikan dua jenis apel itu diketahui sejak tiga hari lalu. Pihaknya langsung menarik dua jenis buah yang dilarang tersebut dari toko dan dikembalikan ke gudang stok di kawasan Serpong.
Namun, pada Minggu dua hari lalu, buah-buah itu kembali dipajang menyusul adanya jaminan dari distributor bahwa dua jenis apel tersebut aman dikonsumsi. Dia menegaskan, dua jenis apel itu tiba di gudang stok dua minggu lalu. ”Kami sudah tempelkan pengumuman bahwa dua buah itu aman. Maka, kami jual lagi,” ujarnya kemarin. Di antara dua jenis buah tersebut, apel jenis granny smith, kata dia, yang paling banyak diminati kaum perempuan. Sebab, apel jenis itu sering dimanfaatkan untuk pengganti obat pelangsing. ”Yang banyak beli jenis granny smith itu perempuan. Karena bisa buat diet. Kan rasanya asam,” ujarnya.
Dia menyatakan akan tetap menjual dua jenis apel itu sampai ada surat resmi dari pemerintah. Selama ini pihaknya belum mendapat pemberitahuan secara resmi soal larangan tersebut. Pemprov DKI juga belum memeriksa kemungkinan adanya buah yang mengandung bakteri tersebut. ”Belum ada petugas yang ke sini. Surat juga belum kami terima,” katanya. Di Carrefour Cikini, hanya apel jenis granny smith yang terlihat di rak buah. Seorang petugas yang menolak namanya disebutkan mengungkapkan, meski sudah ada larangan, pengelola belum menarik apel tersebut. Dia menduga, pengelola masih menunggu surat dari pemprov untuk menarik dua apel berbakteri itu. ”Kami belum dapat pemberitahuan. Mungkin kalau sudah ada suratnya, baru ditarik semua,” ujarnya. (eza/wir/ken/bad/c6/end)

Rate this article!
Tags:
author

Author: