Terdakwa Pencabulan ABG Divonis Ringan, Keluarga Korban Meradang

by -
Terdakwa Pencabulan ABG Divonis Ringan, Keluarga Korban Meradang
Kedua orang tua dan Melati saat berada di ruang JPU Kejari Belitung, Rabu (12/8).

belitongekspres.co.id, TANJUNGPANDAN – Tak puas dengan putusan Pengadilan Negeri Tanjungpandan, terkait kasus pencabulan yang dialami anaknya, TF orang tua Melati (15) –sebut saja begitu–, kontan meradang. Ia menuntut keadilan dengan mendatangi Kantor Pengadilan Negeri Tanjungpandan dan Kejaksaan Negeri Belitung, Rabu (12/8).

Mereka meminta Kejaksaan Negeri Belitung banding, atas putusan dari pengadilan. Dalam kasus persetubuhan anak di bawah umur ini, Pengadilan Negeri Tanjungpandan menvonis terdakwa MI (18) dengan hukuman percobaan selama enam bulan, yang berarti tidak pula disertai penahanan. Sebab, terdakwa juga masih berusia di bawah umur (17),– saat melakukan percabulan tersebut.

Pada persidangan putusan yang berlangsung 10 Agustus 2020 lalu itu, majelis hakim menyatakan MI bersalah. Yakni membujuk anak di bawah umur untuk melakukan persetubuhan. Putusan pengadilan jauh lebih rendah dari tuntutan jaksa. Saat persidangan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Belitung menuntut terdakwa dengan hukuman tiga tahun penjara.

Pasalnya, JPU menilai terdakwa terbukti melanggar Pasal 81 Ayat 2 Undang-undang (UU) Nomor 17 Tahun 2016, Tentang Tap Perpu Nomor 1 Tentang perubahan ke dua atas UU nomor 23 Tahun 2002 Tentang perlindungan anak. “Maka dari itu, kami menuntut keadilan yang seadil-adilnya. Karena putusan pengadilan tidak berpihak kepada kami. Padahal kami korbannya,” kata TF ayah dari Melati.

Bahkan dalam hal ini, dia bersama Melati dan istrinya mendatangi Kejari Belitung dan Pengadil Negeri Tanjungpandan untuk meminta keadilan. Selain itu juga, pihak keluarga Melati ingin mendengarkan secara langsung, alasan PN Tanjungpandan menvonis MI dengan putusan ringan.

TF menjelaskan, sebelum adanya putusan PN Tanjungpandan, dia telah melaporkan MI ke Polres Belitung, pada Maret 2020 lalu. Terdakwa diduga telah mencabuli anaknya yang masih duduk di bangku SMA hingga delapan kali.
“Sebelum kita lapor, kami juga berkomunikasi dengan keluarga MI, agar segera dinikahkan. Awalnya sempat setuju, namun ditolak Pengadilan agama lantaran masih dibawah umur,” jelasnya.

“Setelah itu, pihak keluarga juga terus menjalin komunikasi lagi. Namun tidak ada kesempatan yang terbaik. Akhirnya, kami melaporkan kasus ini ke Polres Belitung,” sambung orang tua Melati.

Usai mendapat laporan dari orang tua korban, Jajaran Satreskrim Polres Belitung melakukan penyelidikan dan penyidikan. Hingga akhirnya MI ditetapkan sebagai tersangka. Dan dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Belitung, untuk disidangkan. “Menurut saya putusan pengadilan tidak adil. Kami meminta agar jaksa naik ketingkat banding,” pungkasnya.

Sementara itu menanggapi pernyataan orang tua Melati, Juru Bicara (jubir) Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpandan Anak Agung Niko mengatakan, pihaknya sudah mendiskusikan masalah ini dengan majelis hakim sebelum vonis.

Pria yang akrab disapa Niko membenarkan, pihaknya telah menjatuhkan hukuman percobaan terhadap MI. Namun, selain itu juga ada beberapa persyaratan yang harus dijalani.

“Seperti tetap pada Pengawasan orang tua. Lalu melaksanakan latihan kerja di BLK Sijuk. Jika selama enam bulan terdakwa melakukan tindak pidana, maka akan langsung diproses. Yakni menjalani penjara selama enam bulan,” kata Niko.

Pria asal Bali ini menjelaskan, dasar-dasar PN Tanjungpandan menvonis terdakwa enam bulan masa percontohan lantaran masih di bawah umur. Meski saat ini, MI sudah berusia 18. Namun, pada saat ia melakukan hubungan terlarang, pelaku masih berusia 17 tahun.

“Saya mau menjelaskan tentang peradilan anak. Dalam peradilan anak berbeda dengan kasus orang dewasa. Jika kasus orang dewasa melanggar kasus lalu dituntut 10 tahun, maka untuk kasus anak tuntutan separuh dari orang dewasa,” jelasnya.

Kenapa dalam kasus ini putusan PN lebih ringan dari tuntutan jaksa?
Niko mengungkapkan, pada saat melakukan persidangan ia bersama majelis hakim sudah mendengar keterangan dari saksi-saksi dan melihat barang bukti.

“Dengan dasar itu, maka kami menvonis terdakwa dengan hukuman tersebut. Jika tidak puas dengan putusan kami, silahkan melakukan banding ke Pengadilan Tinggi (PT),” pungkasnya.

Menanggapi putusan Pengadilan Negeri Tanjungpandan, Kejari Belitung melalui JPU Tri Agung menyatakan banding. Hal itu dilakukan lantaran putusan dari PN, melebihi seperempat tuntutan jaksa. Yakni menuntut tiga tahun, sedangkan vonis enam bulan masa percobaan.

“Jelas putusan ini jauh dari tuntutan kami. Setelah sidang kemarin, hakim memberikan kami tiga pilihan. Terima, pikir-pikir atau banding. Dalam putusan itu, kami memilih pikir-pikir. Namun, untuk sekarang kita pilih banding,” Kata JPU Kejari Belitung Tri Agung. (kin)