Terduga Teroris yang Ditangkap di Beltim Ternyata Miliki Kartu Pers

by -
Terduga Teroris yang Ditangkap di Beltim Ternyata Miliki Kartu Pers
Mushola yang dibangun Kirdi dan Kartu Pers yang dimilikinya.

belitongekspres.co.id, GANTUNG – Terduga teroris jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharut Khilafah (JAK) yang ditangkap di Desa Lilangan, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur (Beltim) Kamis (4/2/) lalu, ternyata mempunyai kartu pers.

Kirdi alias Satria Amru (38), terduga teroris kelahiran Sukoharjo 14 Maret 1982 yang diringkus Densus 88 Mabes Polri itu memiliki Kartu Pers DetikMuslim.com, namun media online tersebut kini sudah dinonaktifkan.

“Dulu pernah ikut jadi wartawan, di Jawa Tengah. Itu untuk biasa-biasa. Wartawan itu dulu, ketika masih punya anak kecil ini, tapi aku simpan sampai sekarang, buat kenang-kenangan,” ungkap Warsini sembari menunjukan kartu Pers milik suaminya kepada Belitong Ekspres.

Perempuan kelahiran Karanganyar Solo 3 Maret 1986 itu, tidak menyangka suaminya bakal ditangkap Tim Densus 88. Sebab, selama ini Warsini mengaku tidak ada sesuatu yang mencurigakan dalam kehidupan sehari-harinya.

“Biasanya kan kalau mau ditangkap itu kan ada orang yang mondar mandir, itu tidak ada. Di Desa (Lilangan) ini suasananya santai, aku pergi sama suami pun gak ada yang membuntut-buntuti,” ujar wanita dengan nama panggilan karib Husnul.

Husnul mengungkapkan, suaminya sudah memiliki tanah di Desa Lilangan Kecamatan Gantung. “Tanah itu dia beli sendiri, hasil dari jual tanah yang di sana (Solo Jawa Tengah). Saya baru 2 bulan di sini, dulu anak-anak sama saya semua di Solo, Sukoharjo,” terangnya.

Awalnya, cerita Husnul ke Belitung Timur hanya berniat untuk main saja, bukan untuk menetap. Akan tetapi, dia merasa kepalang tanggung karena sudah terdaftar dalam Kartu Keluarga sebagai warga Kabupaten Beltim.

“Tadinya saya rencananya ke sini cuma untuk main, tapi sudah pindah KK sini. Sejak dulu saya sudah KK sini lama, sejak dulu suami ku kan sudah beli tanah di sini beberapa tahun yang lalu. Terus kalau aku gak tahu sini kan lucu, akhirnya saya ikut ke sini,” jelas Husnul.

Kirdi diketahui sudah selama 3 tahun tinggal menyendiri di RT 14 Dusun Bukit Setiong Makmur. Setahun tinggal di Desa Lilangan, dirinya membeli tanah di sekitar Jalan Baru Desa Lilangan, Kecamatan Gantung.

Di atas tanah yang dia beli, Kirdi membangun mushola ukuran 4x 4 meter, beratap daun dan berdinding Terpal. Walaupun dia memiliki tanah dan bangunan mushola, namun menurutnya itu tidak layak untuk ditempati alias dihuni.

Akhirnya Kirdi memutuskan untuk ngontrak di RT 17 Dusun Bukit Setiong Makmur Desa Lilangan, bersama istri dan ketiga anaknya. Dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, Kirdi menjadi penambang dan juga berkebun, selebihnya dia berprofesi sebagai tukang pijat dan bekam.

Diberitakan sebelumnya, penangkapan 2 terduga teroris di Bangka Belitung (Babel), akhirnya diakui Kapolda, Irjend Anang Syarif Hidayat. Dikatakan, penangkapan keduanya dilakukan langsung oleh Densus 88, dan Polda hanya backup saja.

”Jadi Polda itu hanya bersifat membackup saja. Yang nangkap Densus 88,” kata Anang kepada Babel Pos (Grup Belitong Ekspres) usai peresmian lapangan tembak Presisi di Mapolda Bangka Belitung, Senin (8/2)

Ada 2 orang yang diringkus Densus 88 pekan lalu. Pertama, pria bernama Kirdi alias Satria Amru (38), seorang laki-laki warga RT 17 Dusun Bukit Setiong Makmur Desa Lilangan, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur (Beltim). Ia diringkus Kamis (4/2).

Kirdi merupakan warga pendatang dari Jawa Tengah diduga terlibat dengan jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharut Khilafah (JAK). Di Beltim sana, ia merupakan pendatang sejak 2018. “Jadi oleh Densus dia ditangkap di kediamannya di Dusun Sinar Sentiong, Desa Lilangan pada Kamis lalu (4/2),” kata Anang.

Pria kelahiran 1982 itu ditangkap karena diduga terlibat langsung serangkaian terorisme di Solo dan Yogyakarta beberapa tahun silam. Dia pindah ke Babel sebagai pelarian atas kejaran Densus. “Jadi dia itu sembunyi di Bangka Belitung ini. Hingga akhinya tercium tim Densus lalu ditangkap,” ungkapnya.

Sehari kemudian atau Jumat (5/2), pria bernama Rian Gunedi (RG) tinggal di RT 5 Dusun Temberan Desa Air Anyir Kecamatan Merawang Kabupaten Bangka, juga diciduk oleh aparat berseragam sama dengan yang meringkus Kirdi.

Di kediaman Rian Gunedi Tim Densus 88 Anti Teror Mabes Polri berhasil menyita sebilah pedang, busur panah dan buku-buku terkait radikalisme. “RG adalah simpatisan ISIS. Dia aktif di media sosial mengkampanyekan gerakan radikal. Misalnya bagaimana membuat bom dan perang di Syria,” sebut jenderal 2 bintang itu.

“Saat ini keduanya menjalani pemeriksan selama 7 hari masa pemeriksaan. Nanti setelah 7 hari akan lebih jelas dan lebih clear tentang yang bersangkutan. Kita tunggu hasil pemeriksaannya dan akan kita informasi kan kembali,” janji Kapolda. Kedua tersangka dijerat dengan pasal 13 A dan pasal 15 UU No 5 tahun 2018 tentang tindak pidana terorisme dengan ancaman 5 tahun penjara. (dny)