Terima Kasih Guruku

by -

Oleh: Sadely Ilyas*

 

Berapa hari yang lalu, kita baru saja memperingati Hari Guru sekaligus ulang tahun PGRI ke 70. Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo dalam perayaan tersebut, bernostalgia dengan guru-gurunya ketika beliau masih sekolah di SMP dan SMA. Kesannya Beliau sangat menghormati jasa guru.

Penulis terharu sekali melihat pemandangan seperti ini, karena penulis juga pernah diajar dan didik oleh guru, juga sebagai pensiunan guru. Jadi, peringatan hari jadi guru selalu mengingatkan kita kepada sosok orang-orang yang telah memberikan jasa yang sangat besar kepada kita semua.

Dari merekalah kita menjadi banyak tahu tentang berbagai hal di dunia ini. Ketika kita menjadi orang-orang yang sukses dan berhasil, pasti ada share peran yang ditanamkan guru. Merekalah guru-guru kita, guru-guru di bangku sekolah, juga guru-guru di Langgar dan Musholla.

Dulu, kita mengenal sosok pahlawan adalah sebagai orang yang membela negara, berperang melawan penjajah. Tapi kini, di tengah problematika negara yang terus-menerus bergulir, sosok ‘pahlawan’ beralih fungsi, dari pahlawan yang diberi tanda jasa, ke ‘pahlawan tanpa tanda jasa’, mereka yang senantiasa berusaha untuk membebaskan bangsa dari keterbelakangan.

Semangatnya yang berkobar-kobar seolah tak pernah sirna. Meski harus melewati medan yang sulit demi membagi ilmunya, dengan fasilitas belajar seadanya, bahkan mungkin saja tak memikirkan soal upah yang diterima. Tak perlu diperdebatkan, dua figur ini adalah pelita pengubah bangsa.

Kita setuju bahwa, pahlawan adalah orang yang membela tanah air, dan membebaskan bangsa dari penjajahan. Sedangkan guru, adalah ‘pahlawan tanpa tanda jasa’, berusaha untuk membebaskan bangsa dari penjajahan yang bernama ‘kebodohan’ dan ‘keterbelakangan’.

Sebagai warga bangsa yang baik, sejatinya kita menghargai para pahlawan – pejuang-pejuang kita. Sebab, kata bijak mengatakan bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai para pahlawannya. Arti kata ‘pahlawan’ memang tidak semestinya kita maknai secara sempit, hanya sebatas pahlawan merebut kemerdekaan bangsa. Kata ‘pahlawan’ harus kita definisikan dalam makna yang lebih luas, yaitu orang-orang yang memiliki andil dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai dengan bidang yang ia geluti.

Sehingga, siapa pun dan hidup dalam zaman apapun dapat menjadi pahlawan bangsanya. Dengan definisi kata pahlawan tersebut, kita mempunyai banyak ‘pahlawan’ yang bergelut di berbagai bidang. Sebut saja, misalnya pahlawan devisa – bagi para TKI yang bekerja di luar negeri. Lantas, ada pahlawan olah raga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri, dan tentunya ‘pahlawan pendidikan’ yang berjuang mendidik anak bangsa ini. Masihkah kita ragu untuk memberikan gelar pahlawan bagi guru-guru kita, bagi seluruh pendidik yang ada di negeri tercinta ini?

Dalam konteks ini, layaklah guru dimaknai sebagai pahlawan. Ibarat serdadu, guru berjuang di medan pendidikan mengemban misi ‘memerdekakan’ generasi bangsa dari belenggu kebodohan dan keterbelakangan. Mereka berada di garda depan dalam menciptakan generasi-generasi muda yang cerdas, terampil, tangguh, kreatif dan penuh inisiatif. Selain itu, generasi yang bermoral tinggi, berwawasan luas, memiliki basis spiritual yang kuat, dan beretos kerja andal. Dengan begitu, kelak mampu menghadapi kerasnya tantangan peradaban. Mengemban misi tersebut jelas bukan tugas yang ringan.

Apalagi di negeri kita, profesi guru belum lagi memperoleh apresiasi yang sewajarnya. Ketidakberuntungan hampir selalu jadi teman setia yang menyertai para guru dalam mengemban tugas mulianya. Terlebih mereka yang ditempatkan atau mengabdi di daerah-daerah terpencil.

Bukan saja harus pontang-panting setiap harinya mengajar rangkap di beberapa kelas sekaligus, karena keterbatasan tenaga guru. Bukan saja harus memutar otak untuk menyiasati ketiadaan sarana penunjang proses belajar mengajar, seperti buku teks, alat peraga, dan gedung sekolah yang reot bahkan nyaris rubuh. Para guru masih harus menghadapi kenyataan pahit bahwa gaji yang mereka harapkan untuk menghidupi diri (serta keluarganya) ternyata terlambat dibayarkan, tak jarang bahkan hingga berbulan-bulan.

Untunglah kini, tampaknya keadaan mulai berubah. Beberapa Pemerintah Daerah telah mulai menyalurkan dana insentif atau tunjangan untuk guru, terutama diprioritaskan bagi mereka yang mengajar di kawasan terpencil. Pemerintah pusat pun telah menyalurkan tunjangan profesi untuk guru yang lolos uji sertifikasi, walaupun hingga kini masih banyak kesimpangsiuran yang melingkupinya. Setidaknya ada secercah harapan bagi peningkatan kesejahteraan guru. Jika begitu, mungkin sudah saatnya para guru berbenah diri.

Predikat ‘pahlawan’ tentunya tidak boleh dibiarkan menjadi sekedar simbol yang terdengar mulia, namun tanpa makna. Misi ‘memerdekakan’ generasi bangsa dari belenggu kebodohan dan keterbelakangan harus benar-benar dapat diaktualisasikan dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah.

Selain harus memiliki bekal pengetahuan yang cukup, guru juga dituntut untuk memiliki integritas kepribadian yang tinggi dan keterampilan mengajar yang dapat diandalkan. Dengan bekal iitu, guru diharapkan mampu menciptakan iklim belajar mengajar yang kondusif, sehat, dan menyenangkan. Hanya dengan bekal idealisme tersebutlah, guru akan tampil sebagai figur yang benar-benar mumpuni, disegani, dan dipercaya dan diteladani.

Kalau hanya mengajarkan suatu mata pelajaran tanpa proses pendidikan lebih lanjut, setiap orang juga bisa asalkan ada literaturnya. Untuk itu, guru dituntut memiliki ‘nilai plus’ dalam melaksanakan pembelajaran. Dengan perkataan lain, seorang guru atau pendidik sejati seyogianya tetap menjaga predikat ‘profesiolisme’ yang disandangnya, yang menurut krennya, inilah yang disebut perfect teacher. A perfect teacher selalu berpikir kreatif, dan melihat segala sesuatu di luar konteks (thinking out the box), dan memberi ruang yang sama besarnya untuk anak didiknya melakukan hal yang sama. Dia adalah sosok yang tidak terkebiri oleh kurikulum, namun ia harus menjelma menjadi sosok yang bebas dan kreatif mengeluarkan ide-idenya bagi perbaikan pembelajaran menuju kualitas pendidikan yang lebih bermutu. Dengan demikian, guru yang senantiasa menginspirasi anak didiknya (great teacher inspires).

Kita begitu menghormati dan bangga bisa bersekolah sehingga mengenal berbagai macam tipe guru, dilihat dari cara mengajarnya, caranya berbicara, caranya menghadapi anak-anak didiknya, caranya memberikan trik-trik berhitung cepat, caranya ‘memarahi’ anak-anak didiknya yang nakal, caranya tersenyum bangga ketika anak didiknya juara kelas. Guru menjadi salah satu bagian terpenting dalam hidup kita.

Menghadapi kenakalan anak-anak dengan penuh kesabaran dan berusaha mendidik anak-anak muridnya agar kelak menjadi orang yang sukses dan berguna bagi bangsanya. Setidaknya, seorang guru tak akan pernah meminta kembali ilmu yang sudah diberikan kepada kita. Betul, entah sudah berapa ribu anak yang sudah dibekali ilmu oleh seorang guru. Presiden atau kepala negara tak akan memimpin negara tanpa andil seorang guru. Astronot pun tak akan menginjakkan kaki di bulan tanpa jasa seorang guru, bahkan penulis sendiri tidak akan bisa menulis artikel ini tanpa jasa guru-guru. Benar-benar guruku adalah pahlawanku!

Pekerjaan seorang guru adalah sebuah profesi. Hal ini berarti bahwa seorang guru berhak mendapatkan hak-haknya, karena telah menjalankan profesinya. Karena profesi guru setara dan sejajar dengan profesi-profesi lainnya seperti akuntan, dokter, pengacara, advokad dan lainnya maka guru juga berhak mendapatkan tingkat kesejahteraan yang setara dengan profesi-profesi lain tersebut. Selain sebagai sebuah profesi, guru juga memainkan peran sebagai ‘aktor’ di bidang pendidikan. Kemajuan suatu bangsa, tidak dapat dilepaskan dari majunya pendidikan di suatu negara. Dan kemajuan pendidikan tidak dapat lepas dari peran sentral guru sebagai pelaku utamanya. Karena kualitas dan profesionalisme guru sekarang ini mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kemajuan pendidikan suatu bangsa di kemudian hari.

Setelah mendapat sertifikat guru profesional, mereka diberikan tambahan ‘beban mengajar’ sebagai akibat dari kenaikan kesejahteraan tersebut. Sebelum menyandang status guru bersertifikasi, pendidik diberi beban mengajar sebanyak 18 jam per minggu, maka setelah mempunyai sertifikat pendidik beban mengajar menjadi 24 jam per minggu. Setelah itu ada segunung tugas-tugas keguruan yang harus dikerjakan oleh seorang guru.

Sebelum seorang guru menyampaikan materi pembelajaran di depan peserta didik, ia harus menyiapkan RP dan materi pelajarannya. Juga ketika ia selesai mengajar di depan kelas ada tugas-tugas lain yang menunggunya, antara lain memeriksa pekerjaan rumah dan ulangan siswa-siswi lalu menganalisisnya, kemudian merencanakan program remedial dan pengayaan. Yang menjadi pertanyaan dan kekhawatiran kita adalah, apakah kualitas pengajaran seorang guru akan berkurang dan tidak maksimal?

Guru sendirilah yang akan menjawabnya. Mungkin di sinilah tantangan seorang guru profesional dalam mengemban amanat bangsa, sebagai “sosok guru panggilan nurani”. Banyak para pengabdi bidang pendidikan ini kita temukan di daerah-daerah pedalaman, di kampung-kampung pedesaan di lereng gunung, dan nun jauh di pulau-pulau terpencil. Mereka mengabdikan diri sepanjang hidupnya sebagai pejuang kebebasan buta aksara, buta hitung, dan buta bahasa. Apapun resikonya, itulah tantangan seorang ‘pahlawan’ tadi.

Mereka tidak mempersoalkan berapa gaji yang harus mereka terima, mereka tidak menuntut jasa dan kesejahteraan yang lebih. Pengabdian di bidang pendidikan ini mereka jalankan dengan ketulusan hati. Jika Ki Hadjar Dewantara (tokok Pendidikan Nasional kita) masih hidup, beliau akan tersenyum bangga menyaksikan generasi penerus pejuang pendidikan nasional saat ini! Inilah sekelumit kata hati kami. Untuk semua guru yang mulia, jasamu akan terpatri di hati kami. Tetaplah menjadi pelita anak bangsa. Selamat Hari Guru….!

*)Pemerhati dan praktisi pendidikan, tinggal di Tanjungpandan.