THE END OF HISTORY (catatan 52 tahun jejak SUPERSEMAR)

Oleh : Saifuddin Al Mughniy
Pengamat Politik. OGIE Institute Research and Political Development. Direktur Eksekutif Lembaga Kaji
Isu-Isu Strategis (LKiS). Anggota Forum Dosen Indonesia. Pendiri Roemah Literasi Titik Koma
Indonesia. Pendiri Aufklarung School Belitung. Dan Peneliti Maping Sosial di Belitung

iklan swissbell

Dekade pasca perang dunia II tentu menyisakan berbagai permasalahan dihampir
belahan dunia.

Perang selalu menyisakan korban, penderitaan, kemiskinan, serta wabah
penyakit demikian Albert Camus mengucapkan.

Situasi dunia internasional dalam rangka menciptakan perdamaian dunia pada prinsipnya mendorong prinsip-prinsip kemanusiaan.

The end of history (matinya sejarah) karya pemikiran Amerikanis Francis Fukuyama, dengan tanpa ragu-ragu mendorong pengucapan yang cukup ekstrim tentang kelahiran kapitalisme setelah runtuhnya sosialis-komunis.

Anasir pemikiran pada dasarnya adalah “penguburan sosialisme”, dan kebangkitan kapitalisme di Eropa. Sejarah politik dunia dan suatu bangsa tentu berbeda situasi dan pengalaman yang lahir di dalamnya.

Indonesia, sebagai suatu bangsa yang lahir dari lapis-lapis kebudayaan nusantara tidaklah mudah untuk mempersatukannya mengingat bentangan katulistiwa dan letak geografis sebagai negara kepaulauan yang membentang dari bujur selatan ke utara, demikian pula bujur timur ke barat dengan suku, bangsa, ras, dan agama yang berbedabeda pula. Tetapi, dalam jejak sejarah kebangsaannya begitu apik dan tragis. Kenapa?

Karena dijajah kurang lebih 350 tahun lamanya, bukanlah waktu yang pendek dengan usia kemerdekaan yang baru berusia 73 tahun.

Dalam teori konflik dinyatakan bahwa kalau suatu bangsa (daerah, suku, organisasi) terjajah 350 tahun, maka ia pun baru mulai bangkit setelah bengsa dan negara itu berusia 350 tahun.

Tetapi pernyataan itu dilain pihak sangat imposible, tetapi dipihak yang lain dengan nada pesimis mengatakan itu
mungkin bisa terjadi ketika kita tidak mampu untuk berubah.

Nah, sejarah politik secara internal Indonesia begitu berliku pasca kemerdekaan tahun 1945 hingga pergantian rezim, dari Orde lama ke Orde Baru.

Karenanya, sebagian orang menyebutkan bahwa tragedy Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) tahun 1966
adalah satu babakan sejarah secara heroik sekaligus misterius.

Tanggal 11 Maret 1966, sejarah Indonesia mengalami titik balik. Sebuah rezim mulai runtuh. Dan sebuah babak
baru lahir.

Instrumen yang mengubah sejarah itu cuma secarik kertas, yang ditandatangani Presiden Soekarno hari itu yakni Surat Perintah Sebelas Maret, biasa disingkat Supersemar.

Lewat surat itu Presiden Soekarno memberikan wewenang kepada Letjen Soeharto, waktu itu Menteri Panglima Angkatan Darat, untuk mengambil “segala tindakan yang dianggap perlu untuk terjaminnya keamanan dan ketenangan serta kestabilan jalannya pemerintahan dan jalannya Revolusi”.  Lewat surat itulah kekuasaan
Presiden Soekarno mulai terkikis.

Dan Jenderal Soeharto muncul sebagai pimpinan nasional yang baru. Menurut sebagian kalangan bahwa supersemar dianggap sebagai cara terbaik pengambil alihan kekuasaan dari sipil ke militer, walau itu tak semuanya
jelas.

Baca Juga:  Memotivasi Siswa Meraih Prestasi?

Menjelang 11 Maret 1971 itu Presiden Soeharto untuk pertama kali menjelaskan latar belakang dan sejarah lahirnya Supersemar karena, katanya, rakyat Indonesia memang berhak mengetahuinya.

“Supersemar merupakan bagian sejarah yang sangat penting untuk meluruskan kembali perjuangan bangsa dalam mempertahankan cita-cita kemerdekaan dan memberi isi kemerdekaan,” ujarnya.

Intisari penjelasan Kepala Negara, ia tidak pernah menganggap Surat Perintah 11 Maret itu sebagai tujuan untuk
memperoleh kekuasaan mutlak.

“Surat Perintah 11 Maret juga bukan merupakan alat untuk mengadakan kup atau kudeta secara terselubung. Supersemar memang peristiwa yang bersejarah.

Ada yang menyebutnya “tonggak sejarah Orde Baru”, atau “Momentum Orde Baru”. Presiden Soeharto sendiri menyebutnya “Awal Perjuangan Orde Baru”.

Meski telah beberapa kali dilakukan usaha merekonstruksikan peristiwa itu, antara lain pada 1976 oleh Pusat Sejarah ABRI yang waktu itu dipimpin Nugroho Notosusanto (almarhum), masih sering terjadi kesimpangsiuran mengenai peristiwa penting itu.

Misalnya yang terjadi pada 1982, tatkala muncul kisah lahirnya Supersemar versi Hasjim Ning, yang kemudian dibantah sendiri oleh pengusaha tersebut.

Tampaknya, belum semua hal terungkap seputar kelahiran Supersemar. Bukan cuma itu saja. Di sana-sini
masih ada cerita yang tidak pernah usai.

Mungkin pelacakan secara lengkap perlu dilakukan, tapi sayang para pelakuknya sudah tidak ada ada. Surat asli Supersemar sendiri kabarnya hingga kini masih hilang.  Maklum, di saat itu keadaan cukup kacau
hingga mungkin kesadaran mendokumentasi masih kurang.

Dengan demikian, sejarah pun kian gelap, sebab disamping para pelakunya sudah tidak ada, dan naskah aslinya
pun begitu sulit didapat, kalau pun ada, mungkinkah itu yang asli? Tentu pertanyaan demi pertanyaan semakin bermunculan.

Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) lahir. Namun, hingga kini ia masih diselubungi kontroversi. Ada tiga kontroversi di seputar Supersemar, yaitu teks, proses mendapatkan surat itu, dan interpretasi perintah dalam surat itu.

Demikian diungkapkan sejarawan Asvi Warman Adam dalam diskusi “Supersemar: Penulisan dan Pelurusan Sejarah” yang digelar Komunitas Penulis Penerbit Buku Kompas di Bentara Budaya, Jakarta, beberapa tahun yang lalu.

Pembicara lain adalah sejarawan Jepang Aiko Kurasawa dan DanielDhakidae. Menurut Asvi, naskah otentik Supersemar sampai sekarang belum diketahui keberadaannya. Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) menyimpan tiga versi Supersemar.

Namun, setelah diuji laboratorium forensik Mabes Polri, semuanya tidak otentik alias palsu. Meski demikian, ANRI tetap menyimpannya sebagai pembanding jika suatu saat nanti naskah otentik Supersemar ditemukan. Supersemar, lanjut Asvi, diperoleh dengan cara tekanan.

Baca Juga:  PERAN PENDIDIKAN DALAM MENYONGSONG ERA REVOLUSI 4.0

Hal ini terlihat dari upaya sebelumnya melalui Hasjim Ning dan Dasaad, dua pengusaha yang dekat dengan Sukarno, yang menemui Sukarno dengan membawa surat dari Soeharto. Mereka meminta Sukarno menyerahkan kekuasaan kepada Soeharto. Sukarno marah dan sempat melempar asbak sambil mengatakan, “Kamu sudah pro-Soeharto.”

Setelah misi kedua pengusaha itu gagal, pada 11 Maret, tiga jenderal, Basuki Rachmat,M. Jusuf, dan Amirmachmud, menemui Sukarno di Istana Bogor.

Merekalah yang membawa Supersemar dan menyerahkannya kepada Soeharto di markas Kostrad. Dan sekitar tahun beberapa tahun yang lalu sebelum Jenderal M. Yusuf wafat, HMI Cabang Makassar mengadakan dialog seputar sejarah supersemar, ketika audens bertanya, apakah bapak (jenderal M. Yusuf), tahu naskah otentik supersemar, beliau pun dengan tenang menjawab, negara ini harus dijaga dengan sejarah, kalau negara ini mau tetap damai, aman, maka biarkanlah sejarah supersemar menjadi sejarah dimasanya, sebab kapan saya mengungkapkan secara otentik maka saya tidak tahu negara ini akan seperti apa, dan kalian sebagai generasi bangsa akan menjadi apa nantinya.

Semua audnes terpaku diam. Pengucapan beliau itu sesungguhnya mengandung makna luar biasa, bahwa supersemar begitu sakral bagi sejarah politik Indonesia, walau hingga saat ini masih sangat misterius.

Dalam pandangan penulis, bahwa supersemar yang terjadi 52 tahun yang lalu, adalah jejak yang kelam dalam sejarah politik bangsa.

Pertama, Heroisme adalah cara Soeharto mengambil alih kekuasaan dengan dalih pemulihan keamanan dan kestabilan negara dari berbagai ronrongan termasuk dari PKI yang berhasil membunuh dewan jenderal tahun 1965.

Yang kemudian mengundang gerakan Tritura yang dikomandoi dari berbagai aktifis mahasiswa saat itu dengan tuntutan (1) Bubarkan PKI beserta ormas-ormasnya. (2) Perombakan Kabinet Dwikora. (3) Turunkan harga pangan. Resesi ekonomi ini kemudian mendorong satu gerakan perubahan politik, seakan supersemar menjadi jawabannya.

Kedua, Misterius setidaknya dipahami sebagai sesuatu yang ada tetapi sesungguhnyatidak pernah ada. Dan itulah yang terjadi saat ini, supersemar tak lebih sebagai dongengdan ilusi.

Fiksi, karena masih sering dipercakapkan, fiktif (bisa iya bisa tidak), tergantungperspektif sejarah yang menguatkannya.

Oleh sebab itu, Fukuyama di akhir tesisnya menyatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menjunjung tinggi sejarah kebangsaannya.

Dan the end of history, bagi supersemar adalah pengakhiran dari satu babakan sejarah, agar generasi kita tak lagi mempersoalkannya dalam berbagai perdebatan.

Cukup dengan bijak kita bisa mengatakan bahwa itu pernah terjadi sebagai satu fase perjalanan kebangsaan, sehingga paling tidak menjadi tugu ingatan, yang berjalan dari momentum ke monument.***

Tags:
author

Author: 

Leave a Reply