Tingkat Perceraian Tahun 2016 Naik 5 Persen

by -

TANJUNGPANDAN-Tingginya angka perceraian di Belitung pada tahun 2016, disebabkan faktor ekonomi, sehingga pasangan memilih selingkuh dengan orang ketiga. Tingkat perceraian di Belitung pada tahun 2015 ke 2016 naik sebesar lima persen.

Pada tahun 2015 Pengadilan Agama Tanjungpandan menangani sebanyak 893 kasus, sedangkan di tahun 2016 naik menjadi 937 kasus. Bagi para bujang di Belitung tak perlu resah, sebab sebanyak kurang lebih 1000 janda siap menampung.

Humas Pengadilan Agama Tanjungpandan Dr.H.Ahmad Syahrus Sikti, S.HI,M.H membenarkan adanya informasi itu. Dijelaskan Ahmad Syahrus, saat ini masih dilakukan rekap jumlah angka perceraian di Belitung.

Kata Ahmad Syahrus, ada kenaikan sekitar lima persen dari sebelumnya. Rata-rata perbulan Pengadilan Agama Kabupaten Belitung menerima hingga 90 orang yang mengajukan perceraian. Bahkan, pada bulan Maret 2016, pengadilan agama menerima 208 orang yang mengajukan percerian.

“Untuk di wilayah Belitung dengan jumlah penduduk yang tidak terlalu banyak, angka ratusan yang mengajukan cerai sangatlah banyak,” kata Ahmad Syahrus kepada Belitong Ekspres, Selasa (3/1) kemarin.

Ahmad Syahrus menambahkan, penyebab utama tingginya perceraian di Belitung disebabkan faktor ekonomi. Selain itu, adanya orang ketiga alias selingkuh menjadi penyebab warga Belitung melakukan gugatan cerai.”Untuk umur, rata-rata di atas usia 20 hingga 40 tahun,” pungkasnya.

Di tahun 2017 diprediksi angka perceraian di Belitung semakin tinggi. Menurut Psikolog Erwinda Tri Satya M Psi, hal itu disebabkan berbagai faktor selain masalah ekonomi dan orang ketiga. Yaitu, peran media sosial (medsos).

Sebab, saat seseorang entah suami atau istri ketika berselisih mereka update status dan dikomentari oleh lawan jenis. Sehingga timbulah rasa kenyamanan dan kedekatan, hingga akhir terjadilah perselingkuhan itu.

Untuk mengatasi hal tersebut, kata Erwinda pasangan yang sudah menikah harus meminimalisir penggunaan jejaring sosial. “Gunakan medsos secara bijak, tidak perlu berlebihan,” kata Erwinda.

Untuk mengatasi masalah perceraian yang disebabkan faktor ekonomi dan orang ketiga, istri dari Pasi Pers Kodim 0414 Belitung Lettu Reka Kurniawan ini menjaelaskan, saat berrumah tangga, harus punya komitmen dan pengertian.

“Misalnya, gaji suami lebih kecil dibanding tetangga sebelah maka sang istri harus menerima apa adanya dan harus saling melengkapi. Sebaliknya, sang suami mengeluhkan istrinya tak secantik teman kerja atau tetangga, maka suami menerima apa adanya. Jika ingin istrinya cantik, maka suami harus memodali, seperti perawatan dan refleksi,” ungkapnya.

Wanita asal Sidoarjo Jawa Timur ini berharap, di tahun 2017 angka perceraian di Belitung dapat berkurang. Katanya, masing-masing individu harus mempunyai tekad untuk menerima kekurangan dan kelebihan pasangan.

Terpisah, sebut saja Jasmine (bukan nama asli) wanita asal Tanjung Kelayang, Kecamatan Sijuk ini baru saja menyelesaikan kasus perceraiannya di pertengahan Desember 2016 lalu. Katanya, Janda satu anak ini memilih bercerai lantaran tak ada kecocokan dengan suaminya sebut saja Donwori.

Diungkapkan, wanita yang sehari-hari bekerja sebagai koki disalah satu hotel kawasan Tanjungpendam ini, awal mula dia bercerai lantaran faktor ekonomi sehingga, sang suami jatuh hati ke pelukan wanita lain yang berprofesi sebagai penyanyi dangdut.

“Waktu itu, saya terjerat hutang sebanyak Rp 5 juta ke rentenir. Namun, sang suami kaget akhirnya dia tak mampu membayar dan memilih untuk meninggalkan rumah,” kata Jasmine kepada Belitong Ekspres.

Bahkan saat sang suami yang diketahui sebagai nelayan pulang ke rumahnya, hari-hari itu dilalui dengan berbagai permasalahan. Tak jarang suami Jasmine selalu memukul hingga mencemooh wanita bertubuh subur ini.

“Akhirnya kami memilih untuk cerai. Pada pertengahan Desember lalu, gugatan kami dikabulkan. Untuk hak asuh anak, masih ikut saya. Sebab, anak kami usianya masih enam tahun,” pungkas wanita berusia 26 tahun ini. (kin)