Tinjau Kawasan Kumuh Kurau

by -1 views

KOBA – Bupati Bangka Tengah (Bateng) Erzaldi Rosman meninjau kawasan kumuh di pinggiran sungai Kurau, kemarin (27/8). Peninjauan dilakukan untuk memastikan kesiapan proses relokasi warga terkait pembenahan kawasan kumuh yang sedang digencarkan oleh Kementerian Sosial (Kemensos).
“Yang perlu digarisbawahi adalah ini bukan penggusuran. Warga harus diberitahu terlebih dahulu agar tidak mudah dihasut oleh pihak-pihak yang punya kepentingan lain,” ujar Erzaldi saat memberikan pengarahan kepada warga di kediaman salah satu warga Kurau Barat, Kaharudin.
Dijelaskan Erzaldi, program ini sudah mulai disosialisasikan sejak tahun 2013, baru disetujui masyarakat tahun 2014 dan akan direalisasikan tahun 2016. Saat ini, sekitar 268 unit rumah yang berada di pinggiran sungai Kurau telah didata ulang dan setuju dengan program ini.
Dalam penataan ini, warga akan mendapatkan bantuan Rp10 juta untuk membantu membangun kembali rumah di lahan yang sudah disediakan. Selain itu, proses penataan dilakukan bersama dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Bateng. “Kok hanya 10 juta. Karena bahan dari rumah lama kan sebagian besar kan masih bisa digunakan. Makanya saya menghimbau warga untuk saling gotong royong saat pembangunan kembali rumah agar tidak memakan banyak biaya,” ucapnya.
Lebih lanjut, ia juga memastikan seluruh warga yang terkena relokasi akan mendapatkan sertifikat hak atas tanah di lokasi baru. Ia pun heran ketika ada beberapa warga yang menyatakan penolakan atas rencana program ini dan mendatangi kantor Bupati untuk melakukan demo penolakan. Lantaran dana di Kemensos sudah dicairkan dan program siap dilaksanakan, Ia pun meminta agar semua warga yang menolak untuk menandatangani surat penolakan. Namun ternyata, belakangan warga yang menolak berubah pikiran dan menyetujui program ini.
“Saya juga heran kenapa ada penolakan. Sempat saya berpikir untuk membatalkan program ini. Tapi tidak bisa, karena dana sudah dicairkan dan wajib diserahkan kepada masyarakat,” tegas Bupati Ezraldi.
Jika kemudian masih ada warga yang tidak setuju, kata Erzaldi, maka dana tersebut akan dialihkan ke kawasan kumuh lainnya atau dikembalikan ke Depsos. “Karena sudah banyak yang setuju, maka yang tidak setuju kita lewatkan saja. Nanti kan kelihatan mana warga yang mendukung pembangunan dan mana yang tidak,” tambahnya sembari mengatakan tidak menghalangi warga yang ingin membangun rumah yang lebih bagus dan memakan dana lebih dari Rp10 juta.
“Namun perlu diingat untuk tidak memaksakan diri dan menyesuaikan dengan kemampuan kita. Memang benar nanti dapat sertifikat. Tapi apa gunanya rumah bagus jika kita terus kepikiran dengan sertifikat yang digadaikan dan cicilan bulanan yang memberatkan,” lanjutnya.
Setelah dilakukan relokasi, juga akan dilakukan pembangunan tambatan perahu untuk memudahkan warga nelayan memarkirkan kapal. Namun pembangunan tambatan perahu hanya bisa dilakukan jika rumah warga yang berada di pinggiran serta dalam aliran sungai telah direlokasi.
Selain bantuan dari Depsos, kabupaten Bateng juga mendapatkan kucuran dana sebesar Rp14 Miliar dari Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk mengeruk pendangkalan dan membangun talud di alur Sungai Kurau. “Hal ini untuk membantu warga nelayan agar tidak lagi terkendala pasang surut air laut untuk pergi dan kembali melaut. Selain itu, jangan sampai kendala ini membuat wisatawan enggan mengunjungi pulau Ketawai yang sedang. Karena kita juga sedang membenahi pariwisata pulau Ketawai,” tandas Erzaldi.(rja)