Tito Langsung Pecat Oknum Nakal

by -

KAPOLRI Jenderal Pol Tito Karnavian langsung mencopot oknum-oknum nakal dari jabatannya di Polda Sumatera Selatan terkait proses seleksi calon anggota Polri tahun 2016. Mereka dimutasi ke tempat lain.

Dalam Surat Telegram Nomor  ST/871/III/2017, tertanggal 31 Maret 2017 itu, Kabid Dokkes Polda Sumsel Kombes Pol drg Soesilo Pradoto MKes, dimutasi menjadi Analis Kebijakan Madya Bidang Yanma Polri. Penggantinya Kombes Pol dr Tri Yuwono Putro yang sebelumnya menjabat Kabid Dokkes Polda Sulawesi Utara.

Kabagdalpers Ro SDM Polda Sumsel KBP Deni Dharmapala juga dimutasi menjadi Pamen Polda Sumsel. Penggantinya, AKBP Agus Andiranto yang sebelumnya menjabat Kabagdalops Ro Ops Polda Sumsel. Kabag Psi Ro SDM Polda Sumsel Drs AKBP Edya Kurnia SPsi MPsi, dimutasi sebagai Pamen Yanma Polri. Dia digantikan AKBP M Fatkhul Birri SPsi, yang sebelumnya menjabat Kabagpsi Ro SDM Polda Jambi.

Kabagwatpers Ro SDM Polda Sumsel AKBP M Thoat Ahmad dimutasi sebagai Pamen Polda Sumsel. Dia digantikan AKBP Faizal yang sebelumnya menjabat Koorgadik Gadik SPN Polda Sumsel.

“Kapolda (Sumsel) sudah usulkan agar para pejabat yang sedang dilakukan pemeriksaan itu diganti. Saya sudah laporkan ke Kapolri atas usulan dari kapolda,” ujar Asisten SDM Kapolri Irjen Arief Sulistyanto di ruang kerjanya, kemarin (31/3).

Arief memperkirakan kasus itu terjadi sebelum tahun 2017. Meski ia tidak dapat memastikan, praktik kotor itu sudah berlangsung sejak lama. Siapa saja yang terlibat di dalamnya juga ia tidak bisa memastikan. Termasuk apakah terstruktur dan terorganisir. “Kronologisnya saya belum tahu. Itu masih berlangsung pemeriksaannya,” kata Arief.

Menurut dia, Polri tidak mau mengambil risiko menempatkan pejabat-pejabat yang kini berstatus terperiksa itu. Karena pada April ini Polri kembali melakukan penerimaan calon anggota Polri. Dan Mabes Polri ingin menjamin agar rekrutmen calon anggota Polri bersih dari praktik curang dan bebas biaya.

Ia mengingatkan agar para calon anggota polisi atau orang tuanya tidak terpedaya iming-iming lulus seleksi dengan membayarkan sejumlah uang. Arief membeber sejumlah modus pelaku yang patut diwaspadai jika ada orang yang datang kepada calon atau keluarga. Dan menjanjikan lulus seleksi, maka itu harus ditolak. “Jadi pelaku sudah tahu kalau si calon ini memiliki nilai bagus dan berpeluang lulus. Pelaku menemui calon yang berpeluang lulus dan mengatakan bahwa nilainya jelek,” jelas Arief.

Nah, si calon atau orangtuanya, khawatir bakal tidak lulus. Lantas disitulah terjadi transaksi kecurangan tersebut. “Jadi pelaku memanfaatkan ketidakpercayaan diri calon yang bakal lulus. Padahal kalau si calon yakin dapat lulus dengan kemampuannya sendiri, praktik ini tidak akan terjadi,” jelasnya.

Karo Penmas Brigjen Pol Rikhwanto menerangkan penangkapan 8 anggota polisi itu terkait penyimpangan rekrutmen anggota kepolisian. “Dalam rekrutmen anggota polri kita terapkan prinsip transparansi dan akuntabilitas. Diharap gak ada lagi anggota yang bermain dalam rekrutmen,” ungkapnya.

Kasus di Sumsel katanya yang ditemukan penyimpangan tahun 2015 dan 2016. Dari lidik Div Propam, tim Itwasum dari Mabes Polri, didapatkan beberapa anggota polisi yang melakukan penyimpangan rekrutmen. “Dari mereka disita uang Rp4,7 miliar. Beberapa periode rekrutmen anggota Polri. Kena etik disiplin dan etik profesi ditangani propam,” ujarnya.

Namun sementara ini Rikhwanto belum bisa menyebutkan sanksinya. “Kita masih lakukan riksa. Uang yang kita sita dari rekening yang ada. Sementara kita kenakan pelanggaran disiplin dan kode etik profesi. Bisa didemosi, bisa gak ada hak untuk berkarier seperti kenaikan pangkat, promosi, sekolah, sampai berhenti tidak hormat,” ungkapnya.

Terpisah, Kadiv Humas Irjen Boy Raffli Amar menjelaskan sejumlah pamen Polda Sumsel itu diduga melanggar prosedur terkait penerimaan calon anggota polisi. Berapa tarif yang dikenakan terhadap seorang calon, Boy mengaku belum sampai rinciannya.

“Yang jelas mereka-mereka itu sebagai panitia yang melakukan rekruitmen tahun 2015-2016,” tambah Boy. Status para pamen itu sementara ini masih terperiksa. (ran/ce1)