Truk Bermuatan Lebih Dituding Biang Kerok

by -

*Soal Jalan Rusak, DPRD Usul Jembatan Timbang

TANJUNGPANDAN-Persoalan kerusakan sejumlah jalan di Kabupaten Belitung kembali mencuat pada rapat di DPRD Kabupaten Belitung pada agenda catatan strategis atas Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Bupati Belitung akhir tahun anggaran 2015 yang dibacakan oleh Sekwan Thohari Warsito, Senin (25/4) kemarin.

Usulan DPRD untuk pengaturan lalu lintas kendaraan pengangkut material tambang hingga pengadaan jembatan timbang dikemukakan pada rapat itu.

Ketua DPRD Kabupaten Belitung Taufik Rizani mengatakan, masalah kerusakan jalan karena kapasitas muatan yang melebihi tonase. Sementara kapasitas mampu jalan hanya delapan hingga 12 ton. Otomatis menyebabkan kerusakan. Karena itu, sangat perlu sebuah jembatan timbang.

“Ketika dilewati oleh kendaraan yang melebihi kapasitas, tentu harus dikontrol pemerintah,” kata Taufik.

“Memang kapasitas kita hanya delapan sampai 12 ton, sementara kendaraan yang lewat di atas 20 ton kadang-kadang,” sambungnya.

Akibatnya, kerusakan jalan semakin parah. Begitu juga dengan Pelabuhan Tanjung Batu. Sementara kontribusi yang didapat Pemerintah Daerah tidak seberapa. Untuk memperbaiki fasilitas yang rusak butuh biaya besar.

“Kita memperbaiki memerlukan biaya yang besar. Maka ini harus ada rapat koordinasi untuk menyikapi masalah ini,” kata Taufik.

Dalam rapat itu muncul ada oknum dibalik kerusakan tersebut. Yakni oknum yang memang sengaja ingin merusakan fasilitas pemerintah. Ketika ditanyakan, Taufik tidak berkilah. “Tentu, kenapa dipaksakan, tentu ada oknum. Ini kan kita tidak menyampaikan nama,” tukasnya.

Ia kembali mempertanyakan mengapa jalan itu dipaksanakan degan kondisi jalan yang separah itu. Tentu jika ada oknum yang berniat demikian harus diambil tindakan tegas, siapapun mereka.

Jangka pendeknya, kata Taufik, pemda harus segera memanggil untuk mengumpulkan pengusaha. Pemda harus kembali menjelaskan bahwa kapasitas jalan di Belitung hanya delapan sampai 12 ton.

Bupati Belitung Sahani Saleh mengatakan, pengusaha tambang sebelum diberi izin sudah dijelaskan mengenai jalan yang bisa dilewati. Termasuk berapa kapasitas jalan.

Namun kata Sanem, kendaraan yang lewat sering melebihi tonase. Jika dipantau siang hari, rata-rata taat sesuai aturan. Namun pada malam hari mereka beroperasi melebih tonase. “Siang oke, malam pakai yang 20 ton,” tukas Sanem.

Yang menjadi perhatian belum ada tindakan tegas dari pemerintah. Pihak pengusaha tentunya ingin mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Hal ini tidak bisa disalahkan. Sesuai dengan rumus ekonomi, modal serendah-rendahnya dan meraup untung sebanyak-banyaknya. “Tetap sekarang kita beri peringatan, dan sekarang kan banyak yang stop itu,” ujarnya.

Ia membenarkan usulan DPRD untuk membuat jembatan timbang. Lalu terkait adanya oknum, Sanem mengaku sudah ada yang memberikan laporan. Saat ini dirinya masih menelusuri siapa yang sengaja ingin merusak fasilitas pemerintah.

“Itu makanya selama ini lum ada kepastian, kawan DPR lum tahu orangnya. Kita menelusuri itu, saya juga mendapat laporan,” kata Sanem.(ade)