Ujian Nasional Tak Lagi Menakutkan?

OYO 399 Kelayang Beach Hotel

Oleh : BISMI, M.Pd. *)

Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) Tahun 2015 telah diambang mata. Jadwal pelaksanaan UN telah resmi ditentukan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Tingkat SMA/SMK akan dilaksanakan tanggal 13 -15 April 2015 dan tingkat SMP sederajat tanggal 4 – 6 Mei 2015. Sekolahpun sudah mempersiapkan siswa-siswinya dalam menghadapi UN 2015. Tahun inipenyelenggaraan UN akanmengalami perubahan yaitu bukansebagai standar kelulusan pesertadidik, tapi tolak ukur mutupendidikan. Semangatpenyelenggaraan UN 2015 akandikembalikan pada Undang-UndangSistem Pendidikan Nasional (UUSisdiknas) Nomor 20 Tahun 2003.UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003pasal 58 ayat 1 dan pasal 61 ayat 2mencatatkan bahwa evaluasi hasilbelajar dan kelulusan siswadilakukan oleh guru, dan sekolah.

Tahun sebelumnya, nilai UN sebagai salah satu penentu kelulusan, merupakan hal utama yang membuat UN begitu sakral. Karena itu, siswa, guru, maupun wali murid menghadapinya dengan segenap upaya untuk bisa melaluinya dengan baik. Bagi siswa, kalau sampai gagal yang berakibat tidak lulus, tentu akan malu dan membuang waktu setahun untuk mengulang. Bagi guru, sekolah, dan dinas pendidikan, tingkat kelulusan akan menentukan prestasi dan karir mereka. Bahkan dibeberapa sekolah harus dibentuk ‘tim sekses’. Kegiatan ritual-ritual menjelang UN yang berbau ‘sirik’ sering dilakukan, seperti mencuci pensil ujian dengan air kembang, bahkan sampai prosesi bakar kemenyan.

Memang SOP UN 2015 secara resmi belum dipublikasikan. Tetapi Mendikbud menjanjikan ada perubahan signifikan. Di antaranya terkait dengan kelulusan siswa peserta ujian tahun 2015 baik di tingkat sekolah dasar (SD) tingkat Sekolah menengah Pertama (SMP) dan juga Sekolah Menengah Atas (SMA) pada UN 2015, salah satunya kelulusan siswa full berdasar hasil ujian akhir sekolah. Semua mata pelajaran, termasuk yang di-UN-kan nanti diujikan dalam ujian akhir Meski kelulusan siswa full menggunakan penilaian ujian akhir sekolah, UN nasional tetap diselenggarakan. Fungsi UN untuk pemetaan kualitas pendidikan, benar-benar bisa objektif. Pemetaan itu terkait dengan kemampuan siswa, sekolah, pemda, hingga pemerintah pusat.

Baca Juga:  Orientasi Pendidikan Tinggi dalam Islam

Keputusan menjadikan nilai UN tidak lagi menentukan kelulusan, mulai jenjang Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA), menjadikan UN kini tidak lagi menyeramkan dan menakutkan. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan dalam suatu acara diskusi dengan Jawa Pos di Graha Pena Jakarta (16/1), berjanji berupaya menjadikan UN sebagai sesuatu yang rileks dan tidak menakutkan. “Kami ingin melakukan desakralisasi unas, Ini adalah ujian biasa yang harusnya bisa dihadapi siswa dengan rileks” kata Anies Baswedan

Kendati nilai UN diputuskan untuk tidak lagi menentukan kelulusan, Kemendikbud meminta pihak sekolah dan guru objektif menilai siswanya sehingga tak ada praktik mengatrol nilai. Sebab nilai UN akan dijadikan pemetaan untuk mengukur pencapaian pembelajaran pada siswa dan mata pelajaran. Pemetaan lebih kepada pada kemampuan siswa. Dengan kata lain nilai UN berguna untuk mengukur capaian pembelajaran pada siswa pada pembelajaran tertentu. Jadi pemetaan, itu bukan daerah, bukan peta capaian sekolah, tetapi lebih kepada peta capaian kompetensi siswa, itu bukan secara angka saja tapi juga nilai kompetensi siswanya.

Pengawasan UN pun dijanjikan tidak lagi seketat dulu, bahkan keterlibatan polisi dalam mengamankan distribusi soal UN akan dikurangi. Selain pengurangan pelibatan polisi, perguruan tinggi tidak akan dilibatkan lagi dalam pengawasan UN. Perguruan tinggi nantinya hanya tahun ini diperkirakan menelan biaya hingga Rp.560 miliar. UN 2015 sendiri akan diikuti oleh 7,3 juta siswa terdiri dari 3.773.372 siswa SMP, 1.632.757 siswa SMA, 1.171.907 siswa SMK dan 632.214 siswa Kesetaraan menjadi peserta UN. Mereka akan mendapat pengawasan dari 700 ribu guru.

Baca Juga:  MARXISME DAN LIBERTARIANISME, SEBUAH TITIK TEMU

Sebelumnya, Berdasarkan Permendikbud Nomor 144 Tahun 2014 Tentang Kriteria Kelulusan Peserta Didik Siswa Pada Ujian Nasional UN 2015, peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan setelah menyelesaikan seluruh program pembelajaran, memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran, lulus Ujian US/M/PK, dan lulus UN.
Kriteria kelulusan peserta didik dari Ujian S/M/PK untuk semua mata pelajaran ditetapkan oleh satuan pendidikan berdasarkan perolehan Nilai S/M/PK yang mencakup mínimal rata-rata nilai dan mínimal nilai dari setiap mata pelajaran yang ditetapkan oleh satuan pendidikan.

 

Pada pasal 2 yang terdapat pada permendikbud tersebur diatas maka peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan setelah, menyelesaikan seluruh program pembelajaran, memperoleh nilai minimal baik pada penilaian seluruh mata pelajaran, lulus ujian sekolah/madrasah dan lulus ujian nasional. Kriteria kelulusan peserta didik diperjelas lagi pada pasal 5 dan 6. Kelulusan peserta didik ditentukan berdasarkan Nilai Akhir (NA) yakni gabungan nilai sekolah dan nilai UN. Untuk tahun ini bobot nilai sekolah dan nilai UN adalah 50% berbanding 50%. Dengan kata lain bobot kedua nilai tersebut sama. Ini berbeda dengan bobot nilai tahun lalu. Tahun lalu perbandingan bobot nilai sekolah dan nilai UN adalah 60%:40% (Permendikbud 97 tahun 2013).
*) Guru SMA Negeri 1 Manggar, Belitung Timur

 
 

Rate this article!
Tags:
author

Author: