Urgensi Bahasa Inggris dan Pariwisata Belitung

by -

foto Nanang Narwianta- SMA 1 Membalong

Oleh: Nanang Narwianta S.Pd.*

Beberapa tahun terakhir ini, selain pertambangan dan perkebunan, Kabupaten Belitung sedang gencar-gencarnya membangun potensi kepariwisataan sebagai motor penggerak perekonomian masyarakat. Belitung memiliki potensi wisata bahari terutama wisata pantai yang sangat besar.
Melihat potensi yang sangat besar tersebut, Belitung ada dalam pencanangan destinasi wisata ketiga setelah Bali dan Lombok. Tentu ini diperlukan strategi khusus dalam usaha mengembangkan kepariwisataan seiring meningkatnya kunjungan wisatawan baik domestik maupun mancanegara.
Ini dikarenakan sektor pariwisata dinilai mampu menggerakan banyak sektor –sektor ekonomi lain, seperti perhotelan, restoran dan industri jasa agen travel. Selain itu, sektor transportasi juga sangat berkembang bersama pengembangan sektor pariwisata. Karena itu, tidak mengherankan jika sektor pariwisata merupakan salah satu penghasil pendapatan asli daerah yang cukup potensial di Belitung.
Ada beberapa dampak pengembangan kepariwisatan di Belitung yang menunjang kehidupan masyarakat, antara lain; Pertama adalah menunjang kesehatan lingkungan hidup. Apabila suatu objek wisata dicanangkan sebagai suatu sasaran kepariwisataan, maka aspek lingkungan menjadi prasyarat yang penting untuk dibenahi sebagai suatu pendukung kegiatan kepariwisataan.
Lingkungan yang bersih indah, menarik, dan sehat dapat memberi inspirasi yang sehat pula. Sebagaimana dipahami bahwa seseorang yang ingin berwisata ingin memperoleh energi baru dalam berkreativitas. Selain itu, mereka juga ingin menikmati alam yang indah dan menarik, sehingga mereka merasakan ada suatu kenikmatan dan ketentraman.
Karena itu, lingkungan perlu dibenahi agar memiliki penataan yang mempesona unik, asri dan memiliki kekhususan yang dapat menimbulkan kesan yang mendalam. Dengan demikian, aspek lingkungan hidup menjadi salah satu tolok ukur kesuksesan suatu kegiatan kepariwisataan. Untuk menciptakan lingkungan yang mempesona itu, tentu dibutuhkan komitmen bersama oleh komunitas dan masyarakat sekitar lingkungan sasaran kepariwisataan dalam menata dan mengelola lingkungan secara berkelanjutan (sustainable). Maka, dapat disimpulkan, dalam bingkai keperiwisataan ini perlu diciptakan suatu keseimbangan antara aspek lingkungan dan sosial budaya berkaitan dengan kepariwisataan. Hal tersebut akan berdampak pada pembangunan aspek kehidupan lainnya. Di antaranya, aspek kesehatan dan keramahan lingkungan yang konsekuensinya dapat menciptakan kesadaran eksistensi diri sebagai pemilik dan penanggungjawab kelestarian lingkungan hidup sekitar.
Kedua adalah kepariwisataan menunjang pertumbuhan ekonomi rakyat. Sebagaimana dipahami, ada korelasi yang signifikan antara interaksi manusia dengan peningkatan ekonominya. Artinya, makin banyak manusia melakukan interaksi pada suatu lokasi membawa dampak konsekuensi peningkatan ekonomi yang optimal pula.
Apabila wisatawan mendatangi suatu lokasi dengan tujuan berwisata, maka mau tidak mau mereka akan mengeluarkan pembiayaan di dearah wisatawan tersebut. Misalnya, terkait dengan makanan, souvenir, dan akomodasi. Dengan majunya kegiatan kepariwisataan dapat menyebabkan terbukanya lapangan kerja dan kesempatan kerja, khususnya masyarakat sekitar lokasi maupun masyarakat Belitung pada umumnya.
Bahasa Inggris dan Pariwisata
Tahun 2011 kisaran kunjungan wisatawan ke Belitung sudah berada diangka 83.893 wisatawan terdiri dari 82.584 domestik dan 1.309 mancanegara. Tren tingkat kunjungan wisatawan ke Belitung selalu meningkat dati tahun ke tahun. Di tahun 2014 saja sudah mencapai 190.000 wisatawan atau hampir menyentuh 200 ribu. Melihat tingkat kunjungan wisatawan mancanegara khususnya, tentu dibutuhkan penguasaan bahasa asing, terutama Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional.
Disebut bahasa internasional karena sebagian besar penduduk dunia berbicara menggunakan Bahasa Inggris dan memahami Bahasa Inggris. Mau tidak mau masyarakat Belitung harus berusaha untuk menguasai Bahasa Inggris sebagai sarana berkomunikasi.
Di Indonesia Bahasa Inggris masih menjadi bahasa asing, sehingga penguasaan dan penggunaan Bahasa Inggris masih terbatas. Hal itu akan berbeda apabila Bahasa Inggris sudah menjadi bahasa kedua (second language) masyarakat tentu akan lebih mudah dalam menggunakan Bahasa Inggris dalam usaha mengembangan kepariwisataan.
Tidak dapat disangkal, bahwa pelayanan informasi kepariwisataan akan menggunakan paling tidak satu bahasa asing, terutama Bahasa Inggris. Mengingat Bahasa Inggris adalah bahasa global yang pertama digunakan oleh etnis mancanegara maupun asal negaranya. Karena itu, sangat beralasan bahwa Bahasa Inggris sangatlah urgen. Dengan kata lain, keberhasilan pengelolaan potensi wisata ini ditentukan bagaimana wawasan SDM (sumber daya manusia) terhadap dunia pariwisata. Lantas, ditentukan pula dengan  pemberian informasi yang memuaskan tentang obyek wisata sekitar kawasan wisata di Belitung dengan menggunakan Bahasa Inggris yang sifatnya praktis.
Sebagaimana yang telah penulis kemukakan di atas, berbicara tentang pemberian informasi yang dibutuhkan oleh pengunjung obyek wisata di Belitung, selain memiliki wawasan keilmuan masyarakat Belitung, juga harus memiliki penguasaan Bahasa Inggris yang memadai.
Dengan begitu, pemberian informasi relatif lebih berterima dan komunikatif dengan pengunjung terutama dengan wisatawan mancanegara. Misalnya, dalam menjelaskan tipelogi kepariwisataan di kawasan Pantai Tanjung Tinggi. SDM ini dituntut harus mampu menjelaskan bagaimana batu-batu granit raksasa bisa ada di kawasan tersebut. Itu tentunya sangat penting dalam menunjang pengembangan pariwisata di lokasi tersebut.
Untuk itu, tentunya dapat disepakati bahwa bahasa yang efektif dalam menjelaskan kekayaan alam yang terdapat di Pantai Tanjung Tinggi sebagai potensi pariwisata adalah Bahasa Inggris praktis, yang berkenaan langsung dengan objek wisata.
Peranan dan kedudukan Bahasa Inggris sangat penting dalam kehidupan masyarakat terutama pelaku pariwisata. Sebab, hampir semua aspek dalam hidup kita diwarnai dengan Bahasa Inggris. Untuk dapat berkomunikasi dengan masyarakat dunia, kita harus menguasai Bahasa Inggris baik secara pasif maupun aktif.
Berbahasa pasif, maksudnya kita diharapkan untuk dapat menangkap penggunaan Bahasa Inggris dengan mendengarkan atau menyimak (listening). Yaitu kemampuan mengucapkan bunyi dan mengidentifikasi bunyi sehingga memahami dan mengerti kosa kata yang diucapkan oleh seseorang. Selain itu, bisa juga dengan cara membaca (reading), yaitu mengerti dan memahami pesan yang disampaikan oleh seseorang melalui pesan tertulis.
Lantas, dia dapat memberikan respon yang tepat, baik sifatnya perbuatan maupun tulisan, dengan cara aktif. Jadi, kita diharapkan untuk dapat menggunakan Bahasa Inggris dengan memproduksinya. Artinya, kita diharapkan untuk berbicara (speaking) dan menulis (writing), yaitu kemampuan seseorang menuliskan pesannya untuk disampaikan kepada pembaca maupun mitra komunikasi dengan Bahasa Inggris.
Masyarakat dan pelaku pariwisata harus dapat menguasai empat keterampilan berbahasa yaitu mendengarkan (listening), berbicara (speaking) membaca (reading) dan menulis (writing). Keempat keterampilan berbahasa dalam pengembangan pariwisata saling berkaitan satu dengan yang lain. Keempat ketrampilan berbahasa memiliki peranan masing-masing dalam pengembangan pariwisata, misalnya ketrampilan (skill) berbicara (speaking) dan menulis (writing) yang sangat berguna dalam penyediaan informasi bagi para wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara.
Penyediaan informasi ini berupa TIC (Tourist Information Centre) yaitu pusat segala informasi tentang pariwisata baik menyangkut obyek pariwisata, atraksi wisata, kalender of event, hotel, restoran hingga moda transportasi. Skill berbicara ini sangat penting dalam menyediakan informasi. Terutama informasi secara lisan kemampuan berkomunikasi sangat penting, khususnya kreativitas menyampaikan informasi dan kejelasan informasi Bahasa Inggris. Sebab, informasi yang disampaikan pada wisatawan mancanegara berpengaruh pada lamanya kunjungan wisatawan.
Skill berbicara  pada wisatawan mancanegara, terutama wisatawan backpacker yang datang tanpa melalui travel agent sangat diperlukan. Ini untuk penyediaan informasi lisan guna menjelaskan secara detil. Selain itu, memberikan informasi kepariwisataan secara jelas dan komunikatif dalam Bahasa Inggris.
Implikasinya, masyarakat harus berinteraksi dengan masyarakat pengguna Bahasa Inggris secara langsung, dalam hal ini wisatawan mancanegara. Kemampuan berbicara Bahasa Inggris tidak saja terbatas pada TIC. Lebih dari itu, juga harus dimiliki oleh para penyedia jasa pariwisata,  misalnya hotel, restoran, armada transportasi dan juga masyarakat sekitar obyek pariwisata.
Bagi para pelaku dan penyedia jasa pariwisata tentu sudah mengerti akan pentingnya penguasaan Bahasa Inggris. Tetapi, hal tersebut belum tentu dipahami terutama bagi sebagian masyarakat sekitar obyek wisata yang kurang mengerti dan paham tentang pentingnya penguasaan Bahasa Inggris dalam pengembangan pariwisata. Dalam hal ini, pemerintah perlu menyediakan pelatihan Bahasa Inggris praktis bagi masyarakat sekitar obyek pariwisata.
Sebagai contoh kita bisa meniru kegiatan tersebut di Yogyakarta yang memberi pelatihan Bahasa Inggris praktis pada tukang becak di kawasan Malioboro dan Keraton Yogyakarta. Atau, pelatihan pariwisata dan Bahasa Inggris praktis yang ada di kawasan pantai Olele Gorontalo. Dengan demikian, Bahasa Inggris sudah sampai pada tataran pelaku pariwisata paling kecil, seperti tukang becak, bahkan pedagang kaki lima.
Skill lain yang diperlukan dalam penyediaan informasi kepada wisatawan khususnya wisatawan mancanegara adalah menulis (writing). Ini penting selain menyediakan informasi secara lisan, informasi tertulis maupun bentuk promosi secara tertulis juga memegang peranan penting dalam pengembangan kepariwisataan.
Diperlukan kreativitas dalam mendeskripsikan disertai tampilan gambar yang menawan untuk menarik minat wisatawan mancanegara untuk berkunjung. Mudahnya akses informasi tertulis seperti penyediaan brosur, leaflet maupun buku panduan untuk berwisata dalam Bahasa Inggris yang menarik, akan menjadi panduan yang sangat berguna. Berguna dalam membantu para wisatawan, terutama wisatawan backpacker yang menikmati wisata tanpa pemandu dan travel agent.
Tentu saja dalam menyediakan informasi tertulis  yang ditujukan bagi wisatawan mancanegara, harus menguasai keterampilan menulis yang baik. Itulah urgensi Bahasa Inggris yang  memegang peranan penting dalam industri pariwisata Belitung.
Pengelolaan pariwisata Belitung tanpa didukung dengan adanya ketrampilan dan kecakapan Bahasa Inggris, akan menghambat dalam memberikan pelayanan pada wisatawan yang notabene berasal dari berbagai belahan dunia. Untuk itu, keterampilan bahasa asing khususnya Inggris sebagai bahasa internasional mutlak diperlukan oleh pelaku pariwisata. Tentunya dari strata paling tinggi misalnya pejabat daerah hingga bagian terkecil dari sektor kepariwisataan yaitu masyarakat sebagai individu.
Majunya suatu kawasan wisata harus ditopang dengan tingkat kualitas dan wawasan sumberdaya manusia yang ada pada kawasan setempat. Yakni, wawasan terhadap kegiatan kepariwisataan, kemampuan dan keterampilan berkomunikasi dengan wisatawan mancanegara dan wisatawan domestik. Berdasarkan perencanaan pengembangan pariwisata Belitung sebagai tujuan wisata ketiga setelah Bali dan Lombok, maka perlu adanya perhatian dan dukungan dari pemerintah untuk kemajuan pariwisata Belitung. Khususnya dalam penguasaan Bahasa Inggris bagi para praktisi/pelaku pariwisata dan masyarakat sekitar obyek pariwisata.(***)
*)Guru Bahasa Inggris SMAN 1 Membalong, Belitung