Usai BDR, Siswa SD di Beltim Kembali Tatap Muka

by -
Pelajar Belitung Klaster Baru Covid-19, Beltim Belum Ada Wacana Tutup Sekolah
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Beltim, Amrizal.

belitongekspres.co.id, MANGGAR – Setelah sempat menjalani Belajar Dari Rumah (BDR) selama sepekan, satuan pendidikan Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Beltim kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka dengan mekanisme dan ketentuan yang diatur Dinas Pendidikan.

Kepastian tersebut tertuang dalam edaran Dinas Pendidikan dan mulai efektif tanggal 25 Januari 2021. Surat edaran yang ditandatangani Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Beltim, Amrizal, memuat sejumlah poin perubahan kegiatan belajar mengajar semester genap jenjang Sekolah Dasar tahun pelajaran 2020-2021.

Diantaranya, menghimbau Kepala Sekolah untuk lebih memperketat protokol kesehatan di sekolahnya masing-masing dengan cara 5M yakni mencuci tangan pakai sabun, memakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan mengurangi mobilitas yang tidak perlu sesuai dengan kebijakan pemerintah terbaru.

Selanjutnya, kelas I dan kelas VI pembelajaran tatap muka dapat dilaksanakan setiap hari tetapi kelasnya harus dibagi menjadi dua rombel perhari. Kelas II sampai kelas V pembelajaran tatap muka dilaksanakan 3 hari perminggu. Kelas tetap dibagi menjadi dua rombel yakni rombel A (Senin, Rabu dan Jum’at) dan rombel B (Selasa, Kamis dan Sabtu).

Kemudian, ketentuan pembagian rombel menjadi dua hanya berlaku untuk sekolah yang siswanya lebih dari 16 siswa per kelas. Sedangkan bagi sekolah yang kurang dari 16 siswa cukup dibuat menjadi satu rombel.

“Apabila siswa rombel A selesai belajar, sekolah wajib mensterilkan kelas dengan cara menyemprot cairan disinfektan terlebih dahulu selama 30 menit. Membuka seluruh jendela kelas sebelum siswa dari rombel B memulai pembelajaran,” sepertip dikutip edaran Dinas Pendidikan.

Selain itu, proses pengukuran suhu tubuh bagi warga sekolah atau tamu yang masuk ke lingkungan sekolah harus tercatat ke dalam buku rekapitulasi pengukuran suhu tubuh sehingga sekolah dapat memiliki arsip tracking.

Bagi orang tua yang tidak menghendaki pembelajaran tatap muka, sekolah tetap melayani siswa dengan BDR dengan membuat surat pernyataan keberatan bermaterai. Didalamnya memuat beberapa pernyataan seperti kesiapan mendampingi anak belajar, siap mengawasi dan memantau anak agar tidak keluyuran serta tidak menuntut sekolah jika terjadi hal yang tidak diinginkan terkait proses BDR.

“Kepala sekolah agar tegas mencegah kerumunan siswa terutama pada saat datang dan pulang dari sekolah. Tidak memberikan izin kepada siapapun yang tidak berkepentingan untuk memasuki lingkungan sekolah tanpa mematuhi protokol kesehatan,” demikian bunyi surat edaran itu.

Terakhir, jika selama proses pembelajaran ditemui indikasi reaktif maka kepala sekolah menghimbau untuk melakukan karantina mandiri selama 14 hari. (msi)