Warga APJ Tolak Rumah Isolasi Mandiri Covid-19, Ini Tanggapan Kades

by -
Warga APJ Tolak Rumah Isolasi Mandiri Covid-19, Ini Tanggapan Kades
Rumah Isolasi Mandiri Covid-19 di Jalan Garuda RT 07 RW 03 Dusun Air Pelempang Timur, Desa Air Pelempang Jaya.

belitongekspres.co.id, TANJUNGPANDAN – Penempatan Rumah Isolasi Mandiri Covid-19 Desa Aik Pelempang Jaya (APJ) di Jalan Garuda RT 07 RW 03 Dusun Air Pelempang Timur menuai penolakan dari warga sekitar.

Dari informasi yang dihimpun Belitong Ekspres sedikitnya ada 35 orang warga yang membubuhkan tanda tangan Petisi penolakan untuk penempatan Rumah Isolasi Mandiri Covid-19 di desa tersebut.

Ketua Badan Permusyawaratan Desa Pelempang Jaya Rozali membenarkan kabar warga yang menolak dan tidak setuju jika rumah tersebut dijadikan sebagai tempat Rumah Isolasi Mandiri Covid-19.

Berkaitan dengan penetapan Rumah Isolasi Mandiri Covid-19, sampai saat ini BPD belum pernah dikoordinasikan. Dari keterangan warga sekitar, mereka juga belum pernah disosialisasikan terkait hal tersebut. Sebab, tiba-tiba ditunjuklah rumah tersebut sebagai tempat Isolasi Mandiri.

“Nah, itulah yang membuat salah satu alasan masyarakat menolak. Secara pribadi saya juga menilai kalau kawasan tersebut tidak layak karena padat pemukiman dan banyak terdapat anak kecil dan lansia. Dampaknya sudah pasti,” katanya kepada Belitong Ekspres.

Dia menambahkan, terkait beredar kabar atau adanya pernyataan jika Rumah Isolasi Mandiri Covid-19 tersebut hanya sebagai simbolisasi, dirinya menilai itu di luar akal sehat.

“Kalaupun memang di luar sana ada statement itu hanya simbol, sepertinya itu diluar akal sehat. Saran dari saya sendiri karena memang masyarakat sudah bergejolak dengan persoalan ini, ada baiknya Pemerintah Desa memindahkan rumah isolasi tersebut ke tempat yang kira-kira tidak ramai dari pemukiman masyarakat,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua RT 07 RW 02 Irfansyah sependapat dengan Ketua BPD APJ. Ia menilai lokasi tersebut tidak layak untuk dihuni orang-orang yang terkena Covid-19.

“Masih banyak tempat yang bisa digunakan dan jauh dari pemukiman tetapi saya harus berfikir sesuai dengan aturan. Saya sosialisasi dulu dan harus tahu aturan- aturan tersebut jadi dalam hal ini saya harus koordinasi dulu dan harus tahu apa yang harus kita lakukan,” kata dia.

Irfansyah menceritakan, sebelumnya memang ada beberapa warga yang membuat petisi menolak dan tidak setuju jika lokasi tersebut dijadikan sebagi rumah Isolasi Mandiri. Alasannya, karena beberapa hal salah satunya kawasan tersebut padat penduduk.

“Dalam hal ini kekhawatiran warga sangat luar biasa. Tidak kurang ada sekitar 35 orang yang menyatakan menolak dan saya sudah datang ke kantor desa untuk klarifikasi dan meminta solusi terkait hal tersebut, yang nantinya akan saya sampaikan dengan warga,” tukasnya.

Menanggapi penolakan warga, Kepala Desa (Kades) Air Pelempang Jaya (APJ) Rezali mengatakan, terkait penempatan Rumah Isolasi Mandiri Covid-19 Desa APJ

di RT 07 RW 02 Dusun Aik Pelempang Timur, keputusan itu diambil karena ada dasarnya.
Yaitu, sudah dibolehkannya isolasi mandiri di rumah oleh Pemerintah. Kemudian di Desa APJ sudah ada 10 orang warga di komplek Perumnas yang melakukan isolasi mandiri di rumah meraka masing-masing dan hal tersebut baik-baik saja, serta tidak ada keluhan dari warga sekitar.

“Kalau seandainya di Desa Air Pelempang Jaya tidak ada satupun warga yang melakukan isolasi mandiri di rumah, tentunya kita tidak berani mengambil keputusan tersebut,” kata Rezali kepada Belitong Ekspres.

Menurut dia, jadi apa bedanya dengan Rumah Isolasi Mandiri Desa dengan Rumah Isolasi Mandiri yang dilakukan oleh warga. Bahkan Rumah Isolasi Mandiri Desa ini tidak berbatasan/bertemu langsung dengan dinding rumah warga.

“Sudah ada warga yang melakukan isolasi mandiri dan rumahnya berbatasan atau temboknya bertemu dengan rumah warga lainnya, dan warga (tetangganya) baik-baik saja, tidak ada keluhan,” ujarnya.

Lebih lanjut Rezali, kalau memang rumah isolasi mandiri tersebut tetap tidak diperbolehkan di lokasi itu dengan alasan padat penduduk, maka Pemerintah Desa (Pemdes) siap saja untuk memindahkan ke lokasi lain.

Namun demikian, jika ada warga yang terpapar virus Covid-19, maka meraka juga tidak boleh melakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing karena ada tetangganya jika alasannya padat penduduk.

“Ini untuk kebaikan kita bersama jadi bagi mereka yang hanya gejala ringan atau OTG, maka tidak perlu isolasi di SKB atau rumah sakit dan sampai saat ini belum ada warga yang dirawat rumah isolasi mandiri tersebut,” sebutnya.

Dikatakan Rezali, orang sakit itu sedikit banyak pasti mengalami depresi atau stres, apalagi jika harus di tempat di dalam hutan. “Karenanya, kita juga harus memikirkan mental dan kejiwaan mereka karena kita juga, harus memanusiakan manusia,” ucapnya.

Terkait tidak adanya sosialisasi ke warga, Rezali menegaskan dirinya sudah melakukan komunikasi dengan RT setempat. Selain itu sesuai arahan dari Pemerintah Daerah agar Pemerintah Desa secepatnya untuk mencari rumah isolasi mandiri.

“Sebelumnya saya sudah bertemu dan menyampaikannya dengan RT setempat. Kemudian rumah itu yang terbaik pada saat itu karena sudah hampir dua bulan kita mencari rumah untuk dijadikan rumah isolasi mandiri tetapi tidak ada yang mau,” ungkapnya.

Dia menambahkan, berkenaan adanya informasi jika rumah tersebut hanya simbolis, Rezali meluruskan. Maksudnya adalah di Desa APJ sudah ada rumah isolasi mandiri sesuai instruksi dari Pemerintah bukan propaganda atau akal-akalan tetapi memang benar adanya.

“Simbolis itu maksudnya adalah kalau di Desa APJ sudah ada rumah isolasi mandirinya bukan akal-akalan tetapi memang real adanya. Nanti kita akan melakukan musyawarah dan meluruskannya dengan mereka yang membubuhkan tanda tangan terikat petisi penolakan rumah isolasi mandiri tersebut,” pungkasnya. (rez)