Warisan Budaya Dongkrak Pariwisata

by -

*Muang Jong dan Maras Taun Ditetapkan Jadi WBTB

TANJUNGPANDAN – Beberapa Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) sudah tercatat di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Belitung. Dari beberapa yang sudah diinventarisir ada dua yang sudah ditetapkan sebagai WBTB. Warisan Budaya inipun diyakini akan mampu mengdongkrak kemajuan sektor Pariwisata Pulau Belitong yang berkelanjutan.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Belitung Irfani Mauran melalui Kasi Nilai Tradisi Hj Nursamsi mengatakan Muang Jong ditetapkan sebagai WBTB tahun 2013 lalu. Dan Maras Taun ditetapkan Desember 2015.

Tahun 2016 ini Dindikbud sebenarnya mengajukan kesenian asal Membalong Dul Mulok. Namun gagal dikarenakan ada kekurangan syarat. Materi yang diajukan sudah cukup lengkap berikut foto kegiatan. Sayangnya pada pengajuannya harus dilengkapi video.

“Tahun ini diajukan Dul Mulok, tapi kekurangan syarat, tahun 2017 kita harus melengkapinya. Mudah-mudahan tahun 2017 bisa ditetapkan sebagai WBTB,” kata dia, Jumat (28/4) kemarin.

Ia menyakini masih banyak WBTB yang belum tercatat. Masih banyak sejarah yang belum diungkap. Untuk itu kata dia peran masyarakat sangat penting. Masyarakat yang memiliki data dan cerita tentang warisan budaya diharap memberikannya ke dinas.

Berdasarkan data Dindikbud ada lima katogori yang menjadi catatatan. Yaitu kategori kesenian daerah, olahraga tradisional, teater tradisional, tarian daerah, lagu daerah, tradisi upacara ritual, permainan tradisional, dan sastra lisan. Jumlah WBTB-nya sekitar 100 catatatan WBTB.

“Kami hanya menerima catatan dari masyarakat. Makanya jika masyarakat aktif memberikan catatannya kami terima. Dan kami akan usulkan ke pusat untuk ditetapkan,” tukasnya.

Sementara warisan budaya benda yang tercatat sebagai cagar budaya sekitar 38 objek. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Belitung Irfani Mauran melalui Kasi Sejarah Kepurbakalaan Alwan mengatakan jumlah yang tercatat itu baru sebagian. Tidak menutup kemungkinan masih ada temuan baru.

Ia mengatakan warisan benda yang bisa dicatat harus memenuhi beberapa syarat. Yaitu minimal berumur 50 tahun, mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 tahun, memiliki arti khusus, nilai budaya, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan atau kebudayaan, syarat terakhir harus memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.

“Kami tetap mencari dan meminta masyarakat untuk mencatat jika ada cagar budaya baru,” ujarnya.

Ia mencontohnya yang sudah tercatat yaitu Jam Gede, klenteng Sijuk, Masjid Sijuk, Situs Mentikus, Mencusuar, situs, dan lain-lain.

Peneliti Pusat Riset Perkotaan dan Wilayah (PRPW) dr Yophie Septiady mengatakan warisan budaya itu berniai mahal. Terkadang pemiliknya saja tidak menyadari itu. Maka perlu pencatatan dan penggalian informasi lebih dalam.

Banyak sekali warisan budaya yang perlu digali. Sayangnya tidak tercatat. Belitung yang merupakan daerah pariwisata sangat membutuhkan wisata budaya,” kata Yophie beberapa waktu lalu.

Sosialisasi warisan budaya tak benda (WBTB) harus ada tindak lanjutnya. Menurutnya mulai sekarang Beitung harus mulai menggali potensi warisan budaya. Karena dibalik warisan budaya saat ini, jika digali bisa saja menemukan potensi warisan lainnya. Misalnya, filosofi rumah adat Belitong, tarian, kesenian, juga seperti upacara maras taun.

“Bangsa kita itu, misalnya dari pemerintah kebanyakan melihat potensi wisata itu hanya alam. Mereka lupa, kalau alamnya gak ada, siapa yang datang. Artinya apa, orang diuar sana sudah tahu, tapi mereka belum tahu potensi budaya,” kata dia.

Ia mencontohkannya di Jepang, orang ke Jepang  ingin tahu budayanya. Bagaimana ketika bunga sakura mekar. Pariwisata tidak bisa lepas begitu saja dari kultur.  Jangan hanya mengandalkan alam, arah potensi tidak dikembangkan ke arah kultur.

“Budaya kalau dikembangkan tidak berubah. Namanya kebudayaan tidak statis, kebudayaan ini begitu tidak berubah. Kebudayaan itu dinamis, tapi inti kebudayaan gak hilang,” tukasnya. (ade)