Yuslih Ancam Mundur Karena Kecewa Berat, Ini Tanggapan DPW PBB Babel

by -
Yuslih Ancam Mundur Karena Kecewa Berat, Ini Tanggapan DPW PBB Babel
Bupati Beltim Yuslih Ihza.

belitongekspres.co.id, MANGGAR – Dari empat Kabupaten di Bangka Belitung (Babel) yang menggelar Pilkada, tampaknya sekarang ini drama dan tensi politik justru terhangat terasa di Belitung Timur (Beltim).

Bagaimana tidak, indikasi ‘koalisi gemuk’ yang tengah dibangun Cabup (Beltim) Yuri Kemal Fadlullah –yang disebut-sebut akan berpasangan dengan Nurdiansyah–, memantik reaksi.

Adalah Bupati Beltim saat ini, Yuslih Ihza yang tampak tak mampu menyembunyikan kekecewaannya. Karena dengan koalisi gemuk itu, hampir dipastikan akan membuat Pilkada Beltim berpotensi hanya dua pasangan yang akan bertarung.

Pasangan yang berada di seberang adalah petahana yang juga Wakil Bupati Beltim saat ini, Burhanuddin-Khairil Anwar. Setidaknya, Golkar-PKS sudah berada di pasangan ini.

Akibatnya, peluang kandidat lain termasuk peluang Yuslih juga seperti tertutup sudah. Karena hanya Gerindra (3) dan PAN (1) sebanyak 4 kursi yang belum menentukan sikap.

“Semua partai sudah gabung dengan situ (red.Yuri). Pergi ke sini punya Yuri, pergi kesitu punya Yuri, jadi mau kemana lagi. Saya yakin dukungan masyarakat masih berpihak kepada saya, orang kan sudah tahu semua, bertandinglah secara bijak, biar masyarakat yang menentukan,” ungkapnya dengan nada kecewa menanggapi perkembangan politik yang ada di Beltim saat ini.

“Yon saya sdh kirim WA ke Yuri dan Sinyo krn hp Yim tdk bisa. Bahwa apabila saya sampai tidak bisa nyalon krn parpol diborong semua oleh Yuri, maka saya segera mengundurkan diri dari Bupati,” ujarnya.

Lebih lanjut Yuslih mengatakan, rencana pengunduran dirinya dari Bupati Beltim sudah dia sampaikan ke Yuri melalui pesan singkat. “Paling lambat awal September di masa pendaftaran calon saya akan buat Surat Pengunduran diri sebagai perlawanan saya terhadap situasi politik di Beltim,” tegasnya.

Dari pernyataan ini, tampaknya Yuslih masih berminat untuk bertarung kembali selaku petahana. Namun perkembangan politik seperti dilansir media ini kemarin, tampaknya langkah itu akan terhadang karena ‘koalisi gemuk’ yang terbangun di Beltim mengisyaratkan hanya akan ada dua pasang calon saja yang akan bertarung.

”Bukan persoalan menang – kalah, tapi proses demokrasi harus tepat,” tegas Yuslih Ihza saat ditemui Belitong Ekspres di ruang kerjanya, Kamis (23/7), kemarin.

Yuslih sangat menyayangkan langkah Yuri. Selain itu, dirinya juga merasa belum pernah memberikan tongkat estafet kepada sang keponakan, Yuri. Sekedar diketahui, Yuri Kemal Fadlullah adalah putra Yusril Ihza, yang juga merupakan keponakan sang petahana Yuslih Ihza.

Digadang-gadangkan, Yuri akan mencalonkan diri di Pilkada Serentak Kabupaten Beltim tahun 2020 dengan menggandeng 6 Partai Politik –kabar terakhir ditambah Hanura dan Perindo. Jika benar-benar terjadi Yuri maju dengan koalisi gemuk-nya, maka langkah sang petahana Yuslih tak ada harapan lagi.

Kasbiransyah: Ini Tergantung Komunikasi

Sementara itu, Ketua DPW PBB Bangka Belitung (Babel), Kasbiransyah menanggapi dingin pernyataan Yuslih. ”Ini kan tergantung keahlian dalam melakukan komunikasi antar partai, jadi tergantung partainya mau berkoalisi atau tidak. Dan ini hal biasa dan hal lumrah, calon-calon pilkada lain juga pernah terjadi seperti ini, ditolak dalam pengusungan partai. Itu hal biasa,” ujarnya, kemarin.

Dikatakan Kasbiran, PBB sebelumnya juga sudah menyerahkan ke Yuslih. ”Ketika beliau tidak mendapatkan partai koalisi yang cukup, maka hal yang wajar jika kesempatan yang diberikan oleh partai partai tersebut diambil kembali dan diberikan kepada orang lain. Saya berharap agar Pak Yuslih jangan membuat statemen yang rancu yang ujung ujungnya juga tidak baik untuk beliau pribadi,” ujarnya mengingatkan.

Terlepas dari itu semua, selain terkuaknya kekecewaan Yuslih, ada juga dalam hal koalisi hal yang menarik. Dimana, Ketua Demokrat DPC Beltim Khairul Effendi justru berada di pasangan Yuri-Anca. Padahal dia adalah kakak kandung dari Cabup petahana Burhanuddin alias Aan yang didukung Golkar-PKS. Inilah politik. (dny/yud)